Oleh: Adya | Maret 14, 2008

TIKA a Warm Gig for Upcoming Album. Kamis, 13 Maret 2008 @ Auditorium LIP (Lembaga Indonesia Perancis), Jalan Sagan no. 3 Jogja

Gigs yang diorganize oleh temen-temen Kongsi Jahit Jahat Syndicate ini menurut jadwal di rundown dimulai jam delapan malem, tapi sejak jam lima sore udah banyak orang yang berdatangan ke LIP untuk cari tiket. Nah karena jumlah tiket yang dijual memang dibatesin sampe 200 tiket, walhasil, belum genep jam tujuh, tiket udah sold out dan banyak calon penonton yang kecele’ (sebelumnya tiket juga dijual di beberapa ticket box, wah tau gini jadi calo dah..)

sold out!

sold out

Sebelum acara di mulai jam delapan malem, pengunjung dan penonton diberi kesempatan untuk nyablon kaos Tika secara cuma-cuma, asal ya bawa kaos sendiri, wah cukup D.I.Y sekali yaaa.. he he he he…

sablon

sablon gratis

Oiya selama menunggu gigs dimulai ada cerita yang lumayan lucu (tapi agak-agak sedih juga sih). Jadi gini.. ada Sepasang suami istri paruh baya dateng bersama empat orang anaknya yang masih kecil-kecil (yang paling gede kira-kira kelas empat SD). Nah setelah usut punya usut, ternyata keluarga itu salah sangka, dikiranya Tika yang bakal konser malem itu tuh Tika-nya AFI (yang ngetop lewat lagu OKE, barengan lesbiannya si Tiwi AFI dalam duet T2).

Oke Oke.. udah cukup ngebahas kesalahpahaman itu, sekarang langsung aja ngebahas acaranya. Jam delapan malem teng, acara dimulai. Panggung dibuka oleh Risky Summerbee and The Honeythief, dengan suguhan “gado-gado” Blues dalam balutan Psychedelic yang cukup atraktif dan membuat bulu kuduk merinding(halah bahasaku sok sangar..). Oiya Risky Summerbee ini juga dikenal sebagai frontman dari band nextofkin. Ah penampilan mereka malem itu memang pantes diacungi jempol, meskipun jujur aja, musik mereka bukan selera saya, tapi performa mereka (terutama Risky tentunya), cukup mengundang kekaguman. Risky mampu membuktikan kalau dia memang performer yang handal di atas panggung, dia bernyanyi, bermain gitar, bermain piano, berteriak, jingkrak-jingkrak, dan nglesot-nglesot.

Risky

Risky Summerbee

Setelah kurang lebih 40 menitan panggung dihangatkan oleh Risky Summerbee and The Honeythief, tiba-tiba panggung dikejutkan oleh seorang MC dadakan, eng ing engg.. siapakah dia? Ternyata dia adalah Bagus Mortal Combat! agak lucu juga ngeliat vokalis band thrash/hc kugiran ini tau-tau jadi mc di acara beginian, padahal aslinya tugasnya Bagus tuh jadi penjaga pintu. he he he.

Mc Bagus

Mc Bagus

Band Selanjutnya yang main adalah Oh,Nina!, band Electropop yang kaya akan sound sampling dan loop tapi karakter vokalnya mirip-mirip Robert Smith. Selama sekitar 40 menit Oh, Nina! Mampu menghadirkan atmosfer futuristik bercampur dengan aroma vintage di venue. Sekali lagi, meskipun saya bukan penggemar musik macem ginian, tapi tetep aja saya akui performa mereka keren, he he he he. Sekedar info aja, sebelumnya Oh, Nina! Bukan band electropop, tapi band indie-pop yang sama sekali ngga ada unsur-unsur sampling dan loop.

oh nina

Oh, Nina!

Setelah Oh, Nina! Turun panggung. Mc Bagus kembali ngecipris di atas panggung, kali ini Bagus nggak sendirian, tapi ditemenin sama Ojie, temen seperjuangannya di Mortal Combat. Bagus yang tadinya keliatan agak-agak grogi dan salah tingkah, sekarang udah mulai bisa menguasai panggung, ntah karena ada temennya, atau karena kadar alkohol dalam darah udah meningkat (penting gak sih ngebahas Mc?).

Ada satu kejutan lagi di gigs kali ini. The Monophones yang batal main digantikan oleh Luky Annash. Siapakah gerangan Luky Annash? Dia adalah kibordis/pianis dari Tika yang juga merupakan adik dari Eka, vokalis The Brandals. Apa yang dilakukan di atas panggung? Apakah dia akan menari bugil? Oh tentu tidak, ternyata selain terkenal sebgai kibordisnya Tika(atau lebih tepatnya kurang terkenal, lha wong saya aja kenalnya baru malem itu..), Luky juga merupakan pianis solo yang memainkan piano-nya sambil menyanyi menjerit-jerit. Agak-agak keinget sama Fiona Apple dan Tori Amos. Tapi malam itu Luky cukup membawakan tiga lagu saja, salah satunya berjudul Bajingan Ibukota (lainnya saya lupa..). Mantap, saya kira Luky bisa jadi the next big thing dalam industri musik Indie.

Luky

Luky Annash

Luky meninggalkan panggung, kembali Mc ngecipris. Sementara Mc masih terus saja ngecipris, kru Tika mulai mempersiapkan panggung.. Ugh.. Gilaaa, ternyata properti yang dibawa ke atas panggung cukup banyak dan “unik”, ambil contoh, sofa, meja, vas bunga, lampu bohlam, payung, plus mic yang dihiasi bunga) edunnn…

Setelah set pangung tertata rapi dan band pengiring siap di posisinya masing-masing, penonton diharuskan menunggu cukup lama, bukan karena Tika-nya sok ngartis apa dia lagi be’ol di belakang, tapi penonoton sengaja disajikan tayangan yang berisi kutipan-kutipan tentang berbagai isu-isu yang ada di Indonesia, seperti misalnnya isu tentang kebobrokan industri media dan hiburan, industri kecantikan, isu gender, dan sebagainya. Salah satu yang saya ingat tuh bunyinya kayak gini “Sekarang yang disukai itu artis dengan wajah-wajah indo, campuran bule. Kalo akting kan bisa dilatih” (kutipan dari “something” Muryono gitu.. katanya sih Artist Management and Talent Scout).

TIka 1

Tika

Baru deh pas tayangan slide abis, yang ditunggu-tunggu naik panggung. Sumpah, saya bingung harus ngereview apa, soalnya bener-bener ga gitu ngerti lagu-lagunya Tika, yang saya tau cuma lagu cover version dari Sue Thompson yang judulnya You Belong to Me (dimana pas denger lagu ini saya jadi keinget sama seseorang di sana.. he he he..*blushing* …Just remember till You’re home again.. You belong to me.. la la la la…). Oke, saya keliatan bego-nya nih, tapi kalau cuman sekedar sedikit mendeskripsikan musiknya, hmm.. in my humble opinion it’s a mix of Jazz and Trip-Hop. Bicara tentang performa panggung, performa Tika bisa dibilang .. hmm let say in Popomundo’s way.. It’s Mind Melting, guess she has five stars or more in basic showmanship skill, he he he. Tika memiliki kemampuan komunikasi dengan penonton yang cukup baik, Ia mampu menciptakan suasana akrab antara performer dengan audience. Hangat dan bersahabat. Dalam setiap jeda lagu ia juga selalu menyempatkan sedikit bercerita tentang lagu yang akan dibawakannya. Salah satu yang saya inget tuh waktu dia bercerita kalau dia pernah jadi Slanker pada taun 90an, dan kalo Slank lagi main dia selalu bawa spanduk gede bertuliskan Spankers (seharusnya Slankers, tapi salah sablon), and then.. dia ngebawain sebuah lagu dari Slank (yang saya ga tau judulnya, he he he..).

Tika 2

Tika 2

Sekitar pukul sebelas, Tika mengakhiri penampilannya malem itu dengan satu lagu baru yang berjudul Mayday, bisa ditebak dari judulnya, lagu itu bercerita tentang buruh. Entah kenapa, lagu itu kok malah ngingetin saya sama lagu-lagunya Chumbawamba era awal 90an. Mungkin karena tema yang agak-agak kiri itu plus irama yang penuh semangat dan bernuansa punk rock yang ngingetin saya sama Chumbawamba. Ah mungkin itu cuma perasaan saya aja.

tika wide

Tika 3

Oke. Pertunjukan selesai, dan penonton pulang ke rumah masing-masing, sementara panitia beres-beres dan makan malam.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori