Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2009

Saya bukanlah orang yang bodoh-bodoh amat dalam materi Bahasa Inggris, saya jarang mengalami kesulitan dalam hal reading, listening, ataupun writing. Tapi tadi siang ketika saya mengantarkan teman-teman Straight Jacket Nation dari Australia untuk melihat-lihat Candi Prambanan, kenapa tiba-tiba lidah saya terasa kelu, sulit mengucapkan kata-kata. Jadilah saya menceritakan legenda Lara Jonggrang dan menjelaskan siapa itu Bhrama, Wisnu, dan Siwa dengan bahasa yang belepotan.. ugh! Jujur aja saya tadi merasa agak canggung dan itu menjadikan saya lebih banyak diam. Mungkin dalam hati mereka mengira saya orang yang pendiam dan serius, padahal sih sebaliknya :P. Ah..sepertinya saya masih harus banyak belajar lagi, terutama dalam hal SPEAKING! 😀

Iklan

Read Full Post »

Bolehlah kalian mengagung-agungkan Winning Eleven dan Call of Duty terbaru. Boleh pula kalian mendewakan kualitas grafis game-game masa kini. Tapi buat saya itu semua hanyalah angin lalu.  Karena menurut saya pribadi genre yang benar-benar menyita perhatian saya sepenuhnya sejak 15 tahun yang lalu sampai sekarang adalah Adventure Games.  Bukan.. bukan sekedar game petualangan bak buk bak buk dar der dor.. tapi yang aku maksud adalah adventure sebagai sebuah genre permainan komputer 🙂

Apa itu Adventure Games?

Adventure Games, jika dilihat secara etimologis dapat diartikan permainan petualangan, tetapi term Adventure Games sendiri sering digunakan untuk menyebut sebuah genre dalam video game dimana sang pemain menggunakan kejelian dan kecermatannya dalam melakukan eksplorasi lingkungan, memecahkan puzzle yang ada,dan berinteraksi dengan berbagai karakter yang ada. Adventure games lebih berfokus kepada bagaimana pemain mampu menyusun apa yang ia dapatkan dalam eksplorasi dan interaksi tersebut menjadi sebuah jalinan cerita yang menarik. Disinilah kekuatan dari Adventure Games dibandingkan game-game lainnya, memainkan genre ini pemain akan merasa seperti sedang membaca novel atau menonton film.

Tema yang sering diangkat dalam Adventure Games meliputi fantasi, fiksi ilmiah, misteri, horror, dan komedi. Beberapa Adventure Games yang terkenal antara lain Zork, King’s Quest, Monkey Island, dan Myst. Kebanyakan dari Adventure Games dirilis sebagai PC Games, dan kebanyakan dikemas dalam bentuk single player.

Secara umum genre ini dibagi menjadi 5 jenis, yaitu text based/interactive fiction yang hanya menggunakan perintah tekstual dalam berinteraksi dengan lingkungan game, graphic adventure , rpg-like adventure yang mengimplementasikan unsur-unsur rpg seperti adanya statistik dan character development (misal : Quest for Glory), puzzle adventure yang lebih menitik beratkan pada pemecahan puzzle, dan japanese style adventure yang lebih mirip dengan novel interaktif (contoh : game-game love simulation Jepang). Diluar kelima sub-genre tersebut sebenarnya masih banyak game-game adventure yang berhasil mengembangkan gayanya sendiri, seperti Loom yang mengandalkan notasi musik, Last Express yang menggunakan sistem waktu real time, dan Fahrenheit.

Genre ini sempat merasakan masa kejayaannya pada tahun 80-an sampai awal 90-an, setelah itu Adventure Games seakan-akan punah dari peradaban manusia, barulah pada awal 2000-an perlahan-lahan genre ini mulai bangkit kembali

 

Sejarah

Dimulai dari Collosal Cave Adventure, sebuah software yang dibuat oleh William Crowther yang kemudian dikembangkan oleh Don Woods pada awal 70-an. Software tersebut adalah sebuah permainan petualangan interaktif penjelajahan gua yang berbasiskan teks, suasana gua dalam permainan tersebut dideskripsikan secara detail oleh Crowther, kemudian suasana gua tersebut oleh Woods ditambahkan beberapa elemen-elemen fantasi yang lazim ditemui pada video games. Collosal Cave Adventure tersebutlah yang menginspirasi beberapa programmer untuk mengembangkan genre adventure, mulai dari programmer-programmer amatir di lingkungan kampus,  Scott Adams yang kemudian mendirikan Adventure International, Infocom yang berhasil merilis serial Zork yang populer pada akhir 70-an, sampai pasangan Ken dan Roberta Williams yang kemudian mendirikan salah satu developer yang melegenda karena game-game adventurenya,Sierra On-Line

Pada perkembangan awalnya, game-game adventure masih berbasiskan teks, dimana pemain berinteraksi dengan lingkungan game hanya dengan mengetik perintah-perintah yang biasanya berupa kata kerja yang diikuti objek (contoh : open door, pick up key, walk north), disini pemain harus menggunakan imajinasinya berdasarkan deksripsi lingkungan yang diberikan. Banyak upaya-upaya yang dilakukan untuk menghadirkan grafis pada game-game adventure, pada perkembangan selanjutnya grafis yang ada hanya berupa vector. Salah satu game adventure pertama yang sudah menggunakan grafis adalah Mystery House (Ken dan Roberta Williams – 1980), sebuah game yang terinspirasi novel Agatha Christie yang berjudul And Then There Were None.

Menyusul kesukesan Mystery House, Ken dan Roberta mendirikan On-Line System yang kemudian pada tahun 1982 berubah nama menjadi Sierra On-Line. Game selanjutnya dari Sierra On-Line adalah Softporn Adventure dan Adventure in Serenia, tetapi baru pada King Quest (1984) Sierra membuat gebrakan baru dimana untuk pertama kalinya game adventure menggunakan sudut pandang orang ketiga, jadi karakter yang kita mainkan terlihat di layar, tetapi untuk melakukan interaksi dengan lingkungan, pemain masih harus menggunakan perintah tekstual. Game-game Sierra selanjutnya seperti Space Quest, Black Cauldron, dan Leisure Suit Larry yang kesemuanya sukses di pasaran telah mengukuhkan Sierra menjadi developer yang mendominasi dunia game adventure pada era 80-an sampai awal 90-an. Beberapa game adventure ciptaan Sierra yang dikenal di pasaran adalah, Serial King Quest, Serial Space Quest, Serial Police Quest, Serial Quest for Glory, Serial Eco Quest, Serial Gabriel Knight, Serial Manhunt, Serial Laura Bow, Serial Leisure Suit Larry, Adventure of Willy Beamish, Conquest of Longbow, Freddy Pharkas, dan banyak lagi.

Selanjutnya pada tahun 1987, Ron Gilbert, seorang programmer yang bekerja pada Lucasfilm Games (yang kemudian berubah nama menjadi LucasArts, dan ya.. perusahaan ini milik George Lucas) berhasil menciptakan sebuah sistem penulisan script yang bernama SCUMM yang menggunakan interface point-click, mirip dengan apa yang sudah dilakukan ICOM Interactive pada tahun 1985, dimana kita hanya perlu menggerakan krusor ke obyek tertentu kemudian kita tinggal meng-klik krusor tersebut untuk memberikan perintah tertentu, sistem tersebut kemudian diimplementasikan dalam game Maniac Mansion yang meledak di pasaran. Selain sistem SCUMM, LucasArts memberikan inovasi-inovasi baru dalam dunia game adventure, seperti tidak adanya “keadaan buntu”, jadi pemain tidak perlu takut mengalami situasi “game over” jika ia melakukan suatu kesalahan. Inovasi ini banyak diikuti oleh kompetitor-kompetitor LucasArts, termasuk Sierra.

Meskipun sudah menggunakan perintah berbasiskan point-click, tetapi perintah tekstual masih dibutuhkan dalam memainkan game adventure pada saat itu, grafis yang ada juga masih terbatas pada 16 warna. Barulah ketika Secret of Monkey Island dirilis LucasArts pada 1990, grafis telah meningkat menjadi 256 warna, selain itu sistem point-click juga hadir dalam kemasan yang modern, perintah tekstual sudah tidak digunakan lagi. Dengan itu LucasArts tak tertahankan lagi merajai dunia game adventure bersama kompetitornya, Sierra On-Line. Game-game adventure yang dirilis LucasArts antara lain Serial Indiana Jones, Serial Monkey Island, Sam and Max, Zak McKraken, Day of The Tentacle, Loom, Full Throtle, The Dig (yang merupakan kolaborasi LucasArts dan Steven Spielberg), dan Grim Fandango.

Pada tahun 1991 ketika dominasi Sierra dan LucaArts dalam dunia adventure game seakan-akan tidak tergoyahkan, sekelompok programmer muda dari Washington yang tergabung dalam Cyan,Inc. berhasil mengembangkan Myst, sebuah inovasi baru pada perkembangan adventure game, alih-alih menggunakan gaya grafis kartun, Myst menggunakan grafis foto-realistik, inovasi tersebut dibantu dengan hadirnya teknologi CD-ROM, Myst juga lebih menekankan pada puzzle solving dibandingkan interaksi dengan lingkungan dan karakter. Myst sendiri yang dirilis pada tahun 1993 terjual sebanyak lebih dari 9 juta kopi (rekor ini baru bisa dipatahkan oleh The Sims pada tahun 2000). Kesuksesan Myst mendorong lahirnya sekuel, sampai sekarang Myst telah mencapai seri ke-5, plus sebuah game spin-off yang berjudul Uru :Ages Beyond Myst, game parodi yang berjudul Pyst, dan tiga buah novel (Myst: The Book of Atrus, Myst: The Book of Ti’ana dan Myst: The Book of D’ni). Meskipun demikian masih banyak yang meragukan Myst sebagai game adventure murni, sebab Myst lebih berfokus pada puzzle dibandingkan interaksi lingkungan dan karakter.

 

Kematian dan Kebangkitan Kembali Adventure Games

Pada awal pertengahan 90-an, genre adventure mencapai puncak kejayaannya, dunia game dibanjiri oleh game-game adventure bermutu seperti Gabriel Knight, Sam and Max, Myst, Legend of Kyrandia, Toonstruck, Alone in The Dark (yang merupakan embrio game survival horror seperti Resident Evil dan Silent Hill), Discworld, dan banyak lagi. Tetapi hal tersebut tak berlangsung selamanya, perkembangan grafis 3 dimensi, perkembangan game action yang memasukkan unsur cerita yang kuat seperti Doom dan Half-Life, kemunculan MMORPG, dan juga kelahiran Playstation telah menyita banyak perhatian gamer untuk beralih dari adventure games. Adventure games dengan sistem permainannya yang tradisional, beralur lambat, dan membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi dianggap kuno.

Perlahan-lahan makin sulit ditemui game-game adventure baru dirilis pasaran, developer game mulai beralih dari adventure games, bahkan Sierra On-Line pada tahun 1998 menjual dirinya ke Cendant, yang kemudian dibeli lagi oleh Havas International, anak perusahaan Vivendi Universal senilai 1 Milyar Dollar.

Meskipun demikian, masih banyak fans Adventure Games yang tetap setia menjadi “Cult Follower”, beberapa dari mereka ada yang berusaha menciptakan dan mengembangkan game mereka sendiri, dan kemudian mendistribusikannya secara cuma-cuma melalui internet, banyak diantara game-game amatir tersebut yang berupa sekuel dan perbaikan mutu dari game terdahulu yang pernah sukses. Software yang cukup populer di kalangan programmer game adventure adalah Adventure Game Studio dan Visionaire.

Diluar developer “indie” seperti diatas, masih ada segelintir developer profesional yang terus mengembangkan game adventure, tetapi tidak ada judul yang mampu membuah pasar menengok pada genre ini, barulah pada tahun 2002 sebuah game adventure, Syberia yang dirilis oleh Microids mampu membuat pasar game adventure kembali bergairah, sekuel pun dibuat, Syberia II dirilis pada tahun 2004. Serial populer, Myst, juga kembali menggebrak dengan sekuelnya yang ke-4, Myst V : The End of Ages, yang dirilis pada bulan September 2005, tak ketinggalan sebuah serial baru dalam dunia game adventure, Nancy Drew, yang dibuat berdasarkan novel detektif berjudul sama, sampai saat ini serial Nancy Drew telah mencapai 20 seri. Game-game lain yang juga ditengok pasar antara lain Post Mortem dan game-game rilisan The Adventure Company lainnya, tetapi tidak ada yang lebih menghebohkan dibandingkan Fahrenheit/Indigo Prophecy, game yang dirilis Quantic Dreams pada tahun 2005, Fahrenheit menciptakan banyak inovasi baru dalam dunia game adventure, interface-nya yang unik dan original dianggap sebagai revolusi baru yang diramalkan akan menjadi standar game adventure di masa depan. Selanjutnya makin banyak lagi game adventure muncul di pasaran, seperti Still Life (sekuel dari Post Mortem), Dreamfall, dan Broken Sword : Angel of Darkness, sekuel terbaru serial Broken Sword. Inilah kebangkitan kembali genre Adventure Games.

Read Full Post »