Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2015

Selama bertahun-tahun banyaknya band hardcore di Yogyakarta tidak diimbangi dengan rilisan yang ada. Band-band lebih memilih merilis merchandise dan memperbanyak live show (ataupun jika ada band yang merekam satu-dua lagu, mereka memilih mendistribusikannya dengan cara yang tidak serius. Dari flashdisk ke flashdisk atau menunggahnya ke file hosting gratisan). Okelah, memang ada Something Wrong, Serigala Malam Throughout, Wound, Wicked Suffer dan Knockdown, tapi rilisan yang ada tetap saja tidak sebanding dengan kemeriahan scene hardcore Yogyakarta dalam rentang waktu enam-tujuh tahun ini.

2014 Merupakan tahun di mana banyak band hardcore lokal yang berani merekam dan mendistribusikan karya mereka secara serius dalam bentuk album. Tercatat ada See It Through, Stronger Than Before, Home Truth, dan YK\\DK yang merilis album (Maafkan jika ada rilisan lain yang terlewat, ketidakaktifan di scene hardcore membuat saya hanya bisa menyimak empat rilisan tersebut). Menariknya, keempat band tersebut masing-masing merepresentasikan varian hardcore yang berbeda.

Dalam tujuh tahun belakangan ini scene hardcore di Yogyakarta didominasi oleh band-band dengan sound berat dan “galak”, cukup menyegarkan ketika melihat ada satu band yang berusaha menghadirkan keriaan oldschool hardcore, ya See It Through. Belum genap satu tahun berdiri, band ini sudah merilis sebuah full length dengan judul “Youth Spirit Never End”. Sembilan track (plus satu overture -bukan bukan overture yang bunyinya “Everybody! A live act never seen before….” :p-) ini sukses membuat saya mengenang awal-awal saya mengenal music hardcore (dan tentu saja scene YKHC dengan band-band semacam Strength to Strength, Think Again, Same Direction), namun saya merasa mereka belum mengeluarkan potensi mereka seutuhnya. Lagu-lagu yang mereka mainkan masih terasa datar, tidak ada ledakan-ledakan energi yang berarti. Pun, secara subyektif tema-tema yang mereka angkat juga terasa klise bagi saya yang sudah terlanjur skeptis dengan isu semacam brotherhood, unity, being positive. Toh hal tersebut tidak berarti saya tidak bisa menikmati album ini. Secara keseluruhan album ini tetap menyenangkan untuk didengarkan sesekali sambil mengenang jaman2 ketika saya masih bisa menikmati gig hardcore. Oh iya, dan niat mereka untuk “Make Hardcore Fun Again” patut mendapat apresiasi.

Tidak seperti See It Through yang belum lama berdiri langsung merilis full length. Stronger Than Before yang berdiri pada tahun 2004 (CMIIW) ini bisa dibilang irit rilisan, hingga tiba-tiba mereka merilis full length berjudul “One Long Journey” di tahun 2014. Menyimak keseluruhan album ini saya semacam mendengarkan curhatan “aging hardcore kid” mengenai kegetiran akan perubahan-perubahan yang terjadi dalam scene hardcore sekarang ini. Eksis selama lebih dari satu dekade membuat STB menjadi saksi dari transformasi scene hardcore di Yogyakarta. Penuturan yang tidak menghakimi atau menggurui mencerminkan kedewasaan mereka. Secara musikal, album ini jauh dari kesan membosankan. Suara gitar yang bersahut-sahutan membuat lagu-lagu mereka terasa padat. Disayangkan sekali dengan materi sesolid ini, dalam penampilan livenya mereka malah lebih sering membawakan lagu dari band lain.

Sementara itu kehadiran Home Truth bisa dibilang mengisi kekosongan yang ditinggal This Heart. Kurangnya respon Scene Hardcore Yogyakarta terhadap varian Hardcore “nggerus” a la Miles Away, Verse, Go It Alone ini tak lantas membuat mereka tidak produktif. Setelah merilis split cassette dengan Think Again, pada pertengahan 2014 kemarin mereka merilis full length album dengan judul After Grey. Isu-isu personal tentu menjadi “kewajiban” bagi band-band semacam ini. Lirik puitis dan kontemplatif yang ditulis dengan kesalahan gramatikal yang minim menjadi nilai plus dari band ini. Kekhawatiran saya akan absennya emosi dari album ini karena vokal yang terasa flat di awal-awal lagu pun ternyata pupus. Divisi vokal latar Home Truth berhasil menyelamatkan album ini dari kemonotonan.

Tahun 2014 ditutup dengan full length perdana dari YK\\DK, We’re All Pretentious Asshole yang dirilis tepat di penghujung tahun 2014. Menyimak rilisan-rilisan mereka sebelumnya (dalam format raw demo) membuat saya berekspektasi tinggi terhadap full length mereka ini. Basically musik yang mereka mainkan berada di jalur hardcore/punk a la Black Flag, Dead Kennedys atau yang lebih mutakhir OFF! dan Raw Nerve, namun tidak berhenti di situ saja, mereka juga cukup “usil” untuk bermain-main dengan berbagai unsur bebunyian seperti Noise, Post-punk, bahkan surf tanpa harus keluar terlalu jauh dari koridor hardcore/punk. Sayangnya hal tersebut tidak saya temukan secara jelas dalam full length ini kecuali feedback gitar di beberapa lagu yang menghadirkan kesan noisy. Terlepas dari absennya keusilan mereka, album ini tetap menghadirkan lagu-lagu hardcore/punk yang kasar dengan lirik-lirik sinis namun komikal.

matuirena

Read Full Post »

tumblr_n7jo2yw1RE1rfx24fo1_500

Kriteria buku bagus menurut saya adalah buku yang ketika sudah mencapai penghujung cerita, saya merasa sedih karena harus segera berpisah dengan tokoh-tokoh di buku itu, kriteria lainnya adalah buku tersebut bisa saya baca hingga 3-4x tanpa merasa bosan, dan setiap membaca ulang selalu ada pemahaman baru yang saya dapatkan.

Tidak banyak buku yang masuk kriteria bagus menurut saya (mungkin karena sedikitnya buku yang saya baca :P), nah salah satunya adalah Goodnight Punpun. Goodnight Punpun adalah sebuah cergam sepanjang 13 volume karangan Inio Asano yang menceritakan perjalanan hidup seorang pria bernama Punpun Punyama (yang kemudian berubah jadi Punpun Onodera setelah perceraian kedua orangtuanya) dari kecil hingga usia awal 20an . Uniknya, Punpun dan keluarganya (Papa/Mama/Paman Yucihi) ini digambarkan sebagai sebuah(?) sketsa berbentuk burung, sementara karakter lainnya digambarkan sebagai manusia biasa. Sepanjang cerita, protagonis kita ini juga tidak mengucap sepatah kata-pun (kecuali dialog internal). Aneh ya.

Walaupun Punpun di sini berperan sebagai protagonis, namun tidak lantas cerita berpusat pada Punpun semata, semua karakter di cergam ini mendapat porsi penceritaan yang cukup. Melalui berbagai karakter yang ada di cergam ini, Asano seolah-olah memberi gambaran umum tentang pelbagai kegetiran hidup yang dihadapi oleh kebanyakan manusia. Teenage angst, krisis perempat/paruh baya, hubungan antar manusia yang merepotkan, perasaan teralienasi, krisis spirtual, cinta, seksualitas, ekonomi, hingga kematian, semua digambarkan dengan apik tanpa didramatisir secara berlebihan.

Penuturan yang sinis, nihilis, dan misantropis seakan-akan memberi kesan bahwa cergam ini merupakan cergam yang gelap dan depresif, namun saya justru merasa cergam ini heart warming. Membaca cergam ini saya semacam dibawa untuk menyelami apa yang ada di dalam diri setiap manusia, bahwa semua manusia sedang bergulat dengan masalahnya masing-masing. Intinya we’re all doomed..we’re fucked and there’s nothing we can do about it. Nothing in life is right but it’s alright. So just keep on living, accept what life has to offer and take it easy… maybe something good will happen 😛

punpun

Read Full Post »

“All Human Are Weird Pretentious Asshole” adalah judul dari sebuah acara launching album dari dua band, YK\\DK dan Energy Nuclear dan kebetulan nama acara tersebut diambil dari judul masing-masing album kedua band yang punya hajat, All Humans Are Weird dari Energy Nuclear dan We’re All Pretentious Asshole dari YK\\DK. Tadinya saya malas datang ke acara ini gara-gara GTA V yang sudah sukses terinstall di PC, namun rasa penasaran terhadap salah satu penampil membuat saya urung menghabiskan malam minggu bersama trio Michael, Trevor dan Franklin.

Sen, begitulah nama band yang menggelitik rasa penasaran saya, bukan.. bukan musikalitas mereka yang membuat saya penasaran melainkan setiap kali saya melihat-lihat profil adik-adik lucu dari scene cosplay/jejepangan saya selalu menemukan akun gitaris Sen di bagian mutual friend. Hehe.

Acara dibuka oleh salah satu empunya hajat, YK\\DK, sayang sih masih sepi jadi kerasa datar. Mereka menutup set dengan Wasted dari Black Flag, eh tapi ada beberapa penonton teriak ankoru (apaan) sehingga mereka menambah satu lagi, We’re pretentious Asshole yang sebenernya udah mereka bawain, jadi semacam repost gan.

YK\\DK ngemot mic

YK\\DK ngemot mic.

Selanjutnya SEN, wajah personelnya terlihat asing bagi saya kecuali gitarisnya (yang saya singgung di atas), sempat kepikiran mereka tipikal orang-orang yang akun facebooknya pakai nama jepang dan kalau pulang ke rumah teriak TADAIMAAAA, tapi dilihat dari tampangnya kayaknya engga deh. Sempat membawakan Linda Linda dari Blue Hearts. Mendengar musik punk melodius yang mereka mainkan saya berharap SEN bisa lebih produktif dan sering manggung. Release more stuff please 😀

DSC_5302

SEN nekonekonekonekoneko.

Lefty Fish berhasil membuat area depan panggung jadi penuh. Suara vokalisnya pas ngomong mirip mbak-mbak Customer Service atau mbak-mbak yang ngomong “Pintu teater satu telah dibuka”. Oh iya, ini merupakan penampilan perdana mereka. Dua single yang mereka luncurkan via soundcloud berhasil bikin banyak orang kagum. (entah kagum beneran apa pura-pura kagum biar dianggap paham musik model gini). Oh iya sempat ada diskusi kecil sama teman mengenai arti dari Lefty Fish, apakah ikan kidal, atau ikan sisa. Ya kalau sisa kan harusnya leftover tapi logo band ini gambar tulang ikan, jadi bisa saja lefty diambil dari leftover. Hingga saya memutuskan untuk nggak tanya sama personel band yang bersangkutan.

DSC_5336

Pintu teater satu telah dibuka.

Belulang Besi, izinkan saya menulis “CRUST AS FUCK! FUCK AS PUNK!!!!!” untuk menutupi ketidaktahuan saya mengenai musik yang mereka mainkan. Ya memang kalimat yang exaggerated sangat cocok untuk menutupi hal-hal yang tidak kita pahami. Oke, kalau begitu saya akan mengulas hal lain dari band ini yaitu fashion pemain bassnya. Beberapa teman bilang gaya berpakainnya mirip Visual Kei Jepang, tapi saya malah teringat GD tapi kan GD fashionnya sedikit banyak terinspirasi punk. Jadi intinya tetep punk.

DSC_5370

Belalang Besi

Cloudburst. Saya baru tau ternyata band ini dulu bernama Unrest, ya memang nama Cloudburst lebih keren walau mengingatkan saya akan kisah sepasang manula lesbian. Maap maap. Kalau ngomongin musik saya juga nggak begitu ngeh dengan musik yang mereka bawakan, kata teman-teman sih kayak Converge, tapi Converge itu apa saya juga ngga tau. Nah yang jelas penampilan mereka berhasil memanaskan area pinggiran panggung. Lama sekali nggak lihat keriaan seperti ini.

Pokoke mbengok

Pokoke mbengok

Energy Nuclear. Hmm gimana ya, jadi saya ini tipe orang yang selera musiknya berada di zona nyaman. Playlist saya dalam 15 tahun terakhir nggak pernah jauh-jauh dari Top 40 Oi!/Streetpunk, Oldschool Hardcore, dan Grup Idola Tiga Huruf Dua Angka, jadi ketika diperdengarkan musik seperti ini saya mbatin “uopoooo iki”. Eh tapi ini keren! Awalnya saya udah mau bodoamat sama EN, tapi beberapa part dari lagu-lagu mereka menarik perhatian saya. Progresi chord njelimet berhasil mereka bawain dengan flow yang halus, perpindahan antar part terasa lembut sehingga rasanya nggak seperti naik bajaj. Kebetulan beberapa bulan ini saya sedang tergila-gila dengan album kedua Tricot, nah EN ini mengingatkan saya pada Tricot, tapi tetap Tricot adalah Tricot dan EN tetaplah EN. Keduanya adalah entitas berbeda dengan karakter yang berbeda pula. Kalau dianalogikan dengan game, Tricot dan EN seperti Shen Mue (Dreamcast/Xbox) dan serial Yakuza (Playstation 2/3). Penampilan mereka ditutup dengan kolaborasi bersama dua member YK\\DK (Kalau nggak salah namanya Hilman dan Bogel) membawakan sebuah komposisi yang kayaknya berjudul All Humans Are Weird Pretentious Asshole. Pokoknya DECAYED NUCLEAR ENERGY AS FUCK YKYKYKYKYKYK(no! this exaggerated sentence is not meant to be cover for my lack of knowledge hehe). Kolaborasi ini langsung mengingatkan saya akan Temodemo No Namida versi Yokoyama Yui x Melody Nurramdhani Laksani yang dibawakan di Kokas tanggal 20 Februari lampau (atau malah Two Roses Matsui J dan Matsui R. Hehe ora deng). Penempatan EN di akhir acara memang keputusan yang tepat, klimaks.

Wis setem urung buwos?

Wis setem urung buwos?

Overall acara ini sangat memuaskan. Venue yang kecil dan pentonton yang tidak begitu membludak. Oh iya yang datang ke acara ini juga seimbang antara orang-orang yang sudah saya kenal dan wajah-wajah baru. Acara kecil semacam ini juga memicu interaksi yang lebih intens. Lineup dari acara ini juga mantep, masing-masing band yang main punya karakter sendiri-sendiri sehingga nggak bosen menyimak acara dari awal sampai akhir. Sip. Asik. Sampai jumpa. Dadah. Wassalam.

Boys Love <3 <3 <3

Boys Love

Mas mas, mbok dodolanku dituku.

Mas mas, mbok dodolanku dituku.

AKU BUTOOOO HA HA HA HA

AKU BUTOOOO HA HA HA HA

Wis ah kesel.

Wis ah kesel.

Read Full Post »

Hebat ya kamu..

tumblr_ml6dcrk4UL1raa7cxo1_500

A : Wah hebat ya kamu, masih muda tapi sudah sukses begini.

B : Ah, ini semua karena Allah kok… Kesuksesan ini tentu karena izin Allah (sementara di dalam hati ia merasa jumawa karena dengan jawaban semacam ini ia berharap dinilai sebagai sosok yang rendah hati).

Yo ngono. Karena kerendah-hatian juga bisa untuk disombongkan.

Asik kaaaaan.

Read Full Post »