Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2015

IMG_0357

Di usia yang sudah mencapai kepala tiga ini, cukup sulit rasanya bagi saya untuk bisa menikmati sebuah pertunjukan musik, biasanya saya datang hanya sekedar nongkrong demi menyambung silaturahmi dengan teman-teman. Ya, kesibukan seringkali jadi kambing hitam bagi sempitnya ruang interaksi tatap muka sehingga saya memanfaatkan acara musik yang ada sebagai media temu kangen. Maka, dibandingkan acara skala besar yang dipenuhi orang asing, saya lebih suka datang ke acara kecil-kecilan yang dihadiri oleh segelintir wajah-wajah akrab. Duduk di lapakan sambil mengobrol merupakan aktivitas favorit saya ketika menghadiri sebuah pertunjukan musik dan lalu pulang tanpa membawa kesan apapun.

Demikian, bukan berarti saya tidak bisa menikmati lagi pertunjukan musik sebagai pertunjukan musik, dalam lima tahun terakhir ini tercatat ada empat acara yang memberikan kesan mendalam bagi saya, yaitu Indonesian Netaudo Festival 1, #BingoDIY, Launching Album Perdana Rabu, dan Launching album YK//DK x Energy Nuclear (atau mungkin bisa ditambahkan konser AKB48 x JKT48 :P). Sebuah pertunjukan saya sebut berkesan adalah ketika saya hadir di situ bukan hanya sebagai ajang bersosialiasi, namun juga bisa merasakan sepenuhnya gig experience dari acara tersebut sehingga atmosfirnya masih terasa hingga sepekan atau lebih.

Jum’at malam pekan lalu, bertepatan dengan Peringatan Hari Pramuka, saya kembali menemukan kegembiraan dalam sebuah pertunjukan musik. Teman-teman dari YKBooking semacam menjadi agen pembawa kegembiraan dengan acara mereka , Saturday Night Karaoke Sruput Tour 2015 chapter Jogja. Acara yang menghadirkan lima band yaitu Barokah, Energy Nuclear, Rocket Airplane, Cloudburst, dan Saturday Night Karaoke tersebut diadakan di basement pengap sebuah kampus swasta dan dihadiri kurang dari 50 orang namun dipenuhi oleh kehangatan.

Tercatat di pamflet, acara dimulai pukul 7 malam, sementara kegiatan saya di kantor baru selesai pukul 7.15, namun mengingat kebiasaan ngaret yang sudah dianggap hal lumrah di setiap pertunjukan musik, maka saya merasa tidak perlu untuk terburu-buru sehingga menyempatkan untuk mampir di sebuah mini market untuk menumpang cuci muka. Nah! Benar juga, saya tiba di venue sekitar jam 8 dan acara belum dimulai. Tampak wajah-wajah akrab di sekitaran venue sehingga waktu luang tersebut saya manfaatkan untuk menyapa dan sedikit beramah-tamah dengan pertanyaan basa-basi seperti “karo sopo bro? Wis ket mau bro? Ngelapak ora bro? Tegar teko ra bro? Ora karo Robert bro? Nomermu isih sing mbiyen toh? Wis rabi bro? Nyilih korek bro” sebagai pembuka obrolan.

Acara dimulai sekitar pukul 8.15. Barokah hadir sebagai penampil pertama sementara saya masih asyik beramah-tamah dengan teman-teman, termasuk menyapa teman-teman Saturday Night Karaoke sehingga kurang begitu memperhatikan band tersebut. Barokah sendiri memainkan pop-punk/skate-punk/melodic-punk atau semacamnya. Malam itu penampilan mereka masih kurang rapih tapi cukup lumayan untuk memanaskan awal acara yang masih sepi.

IMG_0311

Dilanjutkan oleh Energy Nuclear (EN). Band yang konon katanya memainkan musik mathcore ini sudah sempat membuat saya jatuh hati melalui penampilan mereka di launching album YK//DK x Energy Nuclear. Saya sama sekali tidak menyimak mathcore dan band-bandnya, namun penampilan mereka yang penuh ledakan energi benar-benar membuat saya terpesona, sayang sekali saya tidak menemukan ledakan yang sama dalam album mereka yang berjudul “All Humans Are Weird”. Bukan..bukan berarti album rilisan Rusty Nails tersebut tidak layak disimak, album tersebut tentu sebuah album yang menarik untuk disimak, namun sepertinya sekeping Cakram Digital tidak mampu menampung luapan energi mereka sehingga mentonton mereka secara live adalah satu-satunya jalan untuk bisa merasakan pengalaman menikmati sajian EN sepenuhnya, dan malam itu EN kembali tampil dengan sangat apik. Melihat penampilan mereka tersebut, kadang saya ingin sekedar manthuk-manthuk dan gedheg-gedheg , kadang ingin merem-melek sambil sedikit berkontemplasi, dan tiba-tiba saya ingin mengepalkan tinju ke udara, lalu mengepalkan tinju ke tanah, kemudian ingin meloncat-loncat pakai trampolin, berulang begitu terus melalui progresi yang tidak bisa saya tebak. Permainan mereka sangat rapat dan rapi.

Selepas merasakan ledakan nuklir dari EN, saya lalu beranjak keluar venue untuk cari angin, sayup-sayup terdengar Rocket Airplane memainkan setnya. Musik yang mereka mainkan mengingatkan saya pada Blink182, kata seorang teman malam itu mereka juga sempat membawakan lagu dari Angel and Airwaves. Saya tidak begitu suka Blink182 kecuali album Enema Of The State, dan saya sama sekali tidak tahu lagu Angel and Airwaves namun dari pendengaran saya mereka bermain dengan rapi.

IMG_0328

Selanjutnya Saturday Night Karaoke (SNK), saya malas mengulas Trio Pop Punk asal Bandung ini karena musik mereka jelek… nggak deng bercanda, justru penampilan mereka yang saya paling saya tunggu-tunggu. Pop punk yang mereka mainkan merupakan gateway drug saya dalam memasuki scene punk sehingga bisa mengenal berbagai varian punk dan musik sidestream lainnya. Band-band seperti Green Day pra Nimrod, Descendents, The Queers, Screeching Weasel, MxPx dan band-band rilisan Lookout Records/Fat Wreck Chords menjadi soundtrack masa puber saya hingga kemudian saya mengenal punk rock lebih jauh. Secara subyektif, musik yang dimainkan SNK merupakan definisi dari sesungguhnya dari Pop Punk ketika kebanyakan band yang mengklaim diri mereka sebagai pop-punk jatuhnya terlalu punk rock atau justru terlalu ngepop dengan vokal menye-menye, lirik yang meratap-ratap atau tambahan synth tulat tulit yang mengganggu. Malam itu SNK memainkan beberapa lagu dari full length album mereka seperti Flaming Adolescent Passion, Anthem For The Grown Up Kobo Kun, Not FB, walau sayang seingat saya mereka tidak memainkan track favorit saya, Anaya (CMIIW). Puncaknya adalah ketika mereka memainkan sebuah lagu dari grup idola yang saat ini sedang naik daun, Bersepeda Berdua dari JKT48, beberapa wota yang biasanya denial, malam itu menunjukkan kewotaan mereka dengan ikut menyanyi Saya sendiri sempat kaget melihat orang-orang yang tidak tidak terlihat wota ternyata hafal lagu tersebut. Selain itu, yang menjadi kejutan bagi saya adalah mereka membawakan lagu J.A.R dari Green Day. Ya mengejutkan karena lagu tersebut tergolong tidak populer. Sempat menjadi soundtrack dari film Angus, lagu ini cukup berkesan bagi saya. Ketika SMP (sekitar tahun 1996-1999), saya adalah fans berat Green Day (hingga sempat mengirim surat ingin mendaftar Idiot Club, tapi sepertinya suratnya nggak nyampe 😥 ), sayang saat itu album yang beredar di Indonesia hanya Dookie, Insomniac, dan Nimrod, sementara dua album sebelumnya Kerplunk dan 1039 Smoothed Out Sloppy Hours cukup sulit untuk ditemukan, dan ketika menonton Angus lalu mendengar ada lagu Green Day di luar tiga album tersebut di atas, saya merasa senang dan sering menyewa VCD Angus hanya untuk mendengar lagu tersebut. Dimainkannya J.A.R oleh SNK sepertinya menyumbangkan 33,3% dari kegembiraan yang saya rasakan malam itu. Perasaan saya ketika J.A.R dimainkan sama seperti ketika AKB48 membawakan Reset, Only Today, Hashire Penguin, dan After Rain pada konser mereka bulan Februari lampau. Penampilan SNK membawa saya bernostalgia ke masa-masa SMP dan awal-awal SMA sebagai seorang remaja medioker yang merasa kurang beruntung dalam percintaan dan dipenuhi oleh kegamangan hidup a la remaja puber.

IMG_0375

Cloudburst menjadi klimaks bagi gig malam itu. Tampil sebagai band penutup bukannya membuat suasana menjadi dingin, sebaliknya crowd justru makin liar. Penonton yang tadinya cukup berdiri tiba-tiba menjadi beringas, ketiadaan panggung tak menghalangi beberapa orang untuk melakukan crowd surfing (dengan cara diangkat terlebih dahulu tentunya. He he he). Sama seperti EN, saya juga tidak menyimak musik metallic hardcore yang dimainkan Cloudburst, namun penampilan mereka yang chaotic dan penuh energi menjadi sesuatu yang mengasyikkan untuk dilihat. Saat itu saya sudah terlampau letih untuk ikut dalam liarnya crowd dan memutuskan untuk mengabadikan set mereka melalui kamera video HP saya, namun karena pencahayaan yang kurang menjadikan hasil rekaman saya begitu buruk dan akhirnya saya hapus saja. Keputusan untuk meletakkan Cloudburst di akhir acara, dan bukannya SNK adalah keputusan yang tepat. Siapapun yang menyusun set, dia benar-benar paham bagaimana menjaga tempo agar rangkaian acara berjalan dengan smooth dan antusiasme crowd tetap terjaga. Mungkin sang penyusun bisa mencoba menjadi wedding organizer.

IMG_0410

Dengan berakhirnya penampilan Cloudburst, selesai sudah rangkaian acara Saturday Night Karaoke Sruput Tour chapter Jogja, dan seperti kebanyakan acara kolektifan lainnya. Sesi ramah-tamah, handshake, hi-touch, two-shot atau group shot menjadi semacam agenda wajib untuk mempererat Ukhuwah. Menarik sekali mengingat band yang main maupun penonton yang hadir berangkat dari latar belakang musik yang berbeda namun semacam tidak ada sekat-sekat untuk saling mengakrabkan diri. シアワセ!

IMG_0317

foto-foto oleh Lawung Panji Sadewa. Terimakasih Lawung.

Iklan

Read Full Post »

tanocan

Kebetulan hari ini media sosial sedang ramai-ramai membahas kisah heroik seorang pengendara sepeda dalam menghadapi arogansi pengedara motor gede. Menarik sih melihat berbagai opini yang muncul. Lucu dan menggemaskan! Melihat kehebohan netizen tersebut saya kemudian merasa terpanggil untuk turut menyumbangkan sebuah tulisan mengenai motor gede (moge).

Begitu dengar kata moge tentu yang muncul di pikiran seorang yang awam otomotif seperti saya adalah Harley Davidson, nama besar ini mengingatkan saya akan sebuah game yang berjudul Harley Davidson: The Road To Sturgis (selanjutnya saya singkat jadi HDTRTS saja ya biar ngga kepanjangan). Saya ingat betul dulu membeli game ini pada tahun 1994 seharga Rp. 4.500,00 di sebuah toko kecil bernama Mario yang terletak di Jl. Malioboro. Kala itu saya tertarik membeli game ini karena covernya mengingatkan saya akan salah satu serial laga favorit yang berjudul Renegade.

Oke, langsung menuju ulasan gamenya saja ya. HDTRTS ini bisa dibilang genrenya balapan, namun tidak seperti balapan kebanyakan yang saya mainkan pada masa itu, HDTRTS kaya akan fitur simulasi dengan tambahan elemen character development a la RPG. Bagi saya yang pada masa itu lebih akrab dengan game balap arcade semacam Lotus, Outrun, dan Super Hang On, tentu HDTRTS menjadi sebuah pengalaman baru.

HDTRTS meletakkan kita dalam posisi seorang biker yang hendak menghadiri sebuah event kumpul-kumpul biker di kota Sturgis, nah untuk mencapai tujuannya tersebut, kita diberi waktu selama 10 hari. Game dimulai dengan gaya RPG, kita dipersilahkan memberi nama karakter, memilih tingkat kesulitan, lalu melakukan alokasi stat yang terdiri atas Riding, Mechanic, Brawling, Wealth, dan Charisma.

Perjalanan panjang menuju Sturgis dimulai dari sebuah biker shop di kota Maine. Di biker shop, kita bisa melakukan upgrade terhadap motor kita, membeli perlengkapan yang menunjang kemampuan berkendara, mengisi bensin, atau mengikuti berbagai event yang bisa menambah uang kita. Biker shop bisa ditemui di setiap kota yang kita singgahi. Setiap biker shop memiliki item-item maupun event unik. Perlu diingat ya, kita cuma dikasih waktu 10 hari jadi jangan keasyikan belanja atau memainkan event!

Untuk riding sequence kita hanya diharuskan berkendara menghindari berbagai obstacle seperti batu, genangan air,atau mobil lain yang lewat. Riding stat kita berpengaruh besar di sini, semakin tinggi skill kita, maka stabilitas berkendara jadi makin baik. Walaupun terdengar simpel namun bagian ini ternyata tricky loh! Soalnya penggantian transmisi dilakukan secara manual (dengan cara menahan tombol Ctrl dan panah atas/bawah). Di sini kita juga bisa mendapat tambahan uang dengan cara memberi tumpangan pada orang-orang yang mobilnya mogok. Kecepatan perlu diperhatikan juga, karena kalau terlalu ngebut nanti kita bisa ditangkap polisi. Sayang sekali, dalam sequence ini, background yang itu-itu saja membuat berkendara terasa monoton.

Nah begitu sih, secara garis besar, HDTRTS mengharuskan kita berkendara dari satu kota ke satu lainnya hingga sampai ke tujuan akhir, yaitu Sturgis, di mana di setiap kota kita bisa melakukan berbagai modifikasi atau memainkan berbagai mini game events. Selama perjalanan kita bisa menemui berbagai halangan yang membuat kita gagal mencapai Sturgis seperti kehabisan uang, meninggal di perjalanan, motor rusak, ataupun melewati batas waktu 10 hari yang diberikan. Jujur saja, saya belum pernah berhasil mencapai tujuan! Hehe.

Afterall, game ini merupakan game yang lumayan bagus, kalau suruh kasih score yaa saya kasih score 3,5/5 laah. Hal yang paling mengganggu dari game ini adalah setiap kita pindah screen kita harus mendengarkan musik yang lumayan panjang dan ngga bisa diskip. Mungkin asyik juga ya andai game ini diremake dengan grafik dan teknologi terkini.

Saat ini HDTRTS sudah masuk kategori abandonware, artinya bisa dimainkan dengan gratis dan legal. Kalau mau coba bisa kunjungi tautan ini. Oke deh, semoga pengendara moge makin tertib dan santun ya. Kita yang bukan pengendara moge juga semoga bisa semakin bijak menyikapi berita-berita yang tersebar di dunia maya, serta Divisi Humas Polri bisa semakin paham tugasnya sebagai humas dan tidak lagi-lagi membuat blunder yang menjadi bumerang bagi citra polisi A.C.A.B.

matuirena

Read Full Post »