Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘gigs’ Category

IMG_0357

Di usia yang sudah mencapai kepala tiga ini, cukup sulit rasanya bagi saya untuk bisa menikmati sebuah pertunjukan musik, biasanya saya datang hanya sekedar nongkrong demi menyambung silaturahmi dengan teman-teman. Ya, kesibukan seringkali jadi kambing hitam bagi sempitnya ruang interaksi tatap muka sehingga saya memanfaatkan acara musik yang ada sebagai media temu kangen. Maka, dibandingkan acara skala besar yang dipenuhi orang asing, saya lebih suka datang ke acara kecil-kecilan yang dihadiri oleh segelintir wajah-wajah akrab. Duduk di lapakan sambil mengobrol merupakan aktivitas favorit saya ketika menghadiri sebuah pertunjukan musik dan lalu pulang tanpa membawa kesan apapun.

Demikian, bukan berarti saya tidak bisa menikmati lagi pertunjukan musik sebagai pertunjukan musik, dalam lima tahun terakhir ini tercatat ada empat acara yang memberikan kesan mendalam bagi saya, yaitu Indonesian Netaudo Festival 1, #BingoDIY, Launching Album Perdana Rabu, dan Launching album YK//DK x Energy Nuclear (atau mungkin bisa ditambahkan konser AKB48 x JKT48 :P). Sebuah pertunjukan saya sebut berkesan adalah ketika saya hadir di situ bukan hanya sebagai ajang bersosialiasi, namun juga bisa merasakan sepenuhnya gig experience dari acara tersebut sehingga atmosfirnya masih terasa hingga sepekan atau lebih.

Jum’at malam pekan lalu, bertepatan dengan Peringatan Hari Pramuka, saya kembali menemukan kegembiraan dalam sebuah pertunjukan musik. Teman-teman dari YKBooking semacam menjadi agen pembawa kegembiraan dengan acara mereka , Saturday Night Karaoke Sruput Tour 2015 chapter Jogja. Acara yang menghadirkan lima band yaitu Barokah, Energy Nuclear, Rocket Airplane, Cloudburst, dan Saturday Night Karaoke tersebut diadakan di basement pengap sebuah kampus swasta dan dihadiri kurang dari 50 orang namun dipenuhi oleh kehangatan.

Tercatat di pamflet, acara dimulai pukul 7 malam, sementara kegiatan saya di kantor baru selesai pukul 7.15, namun mengingat kebiasaan ngaret yang sudah dianggap hal lumrah di setiap pertunjukan musik, maka saya merasa tidak perlu untuk terburu-buru sehingga menyempatkan untuk mampir di sebuah mini market untuk menumpang cuci muka. Nah! Benar juga, saya tiba di venue sekitar jam 8 dan acara belum dimulai. Tampak wajah-wajah akrab di sekitaran venue sehingga waktu luang tersebut saya manfaatkan untuk menyapa dan sedikit beramah-tamah dengan pertanyaan basa-basi seperti “karo sopo bro? Wis ket mau bro? Ngelapak ora bro? Tegar teko ra bro? Ora karo Robert bro? Nomermu isih sing mbiyen toh? Wis rabi bro? Nyilih korek bro” sebagai pembuka obrolan.

Acara dimulai sekitar pukul 8.15. Barokah hadir sebagai penampil pertama sementara saya masih asyik beramah-tamah dengan teman-teman, termasuk menyapa teman-teman Saturday Night Karaoke sehingga kurang begitu memperhatikan band tersebut. Barokah sendiri memainkan pop-punk/skate-punk/melodic-punk atau semacamnya. Malam itu penampilan mereka masih kurang rapih tapi cukup lumayan untuk memanaskan awal acara yang masih sepi.

IMG_0311

Dilanjutkan oleh Energy Nuclear (EN). Band yang konon katanya memainkan musik mathcore ini sudah sempat membuat saya jatuh hati melalui penampilan mereka di launching album YK//DK x Energy Nuclear. Saya sama sekali tidak menyimak mathcore dan band-bandnya, namun penampilan mereka yang penuh ledakan energi benar-benar membuat saya terpesona, sayang sekali saya tidak menemukan ledakan yang sama dalam album mereka yang berjudul “All Humans Are Weird”. Bukan..bukan berarti album rilisan Rusty Nails tersebut tidak layak disimak, album tersebut tentu sebuah album yang menarik untuk disimak, namun sepertinya sekeping Cakram Digital tidak mampu menampung luapan energi mereka sehingga mentonton mereka secara live adalah satu-satunya jalan untuk bisa merasakan pengalaman menikmati sajian EN sepenuhnya, dan malam itu EN kembali tampil dengan sangat apik. Melihat penampilan mereka tersebut, kadang saya ingin sekedar manthuk-manthuk dan gedheg-gedheg , kadang ingin merem-melek sambil sedikit berkontemplasi, dan tiba-tiba saya ingin mengepalkan tinju ke udara, lalu mengepalkan tinju ke tanah, kemudian ingin meloncat-loncat pakai trampolin, berulang begitu terus melalui progresi yang tidak bisa saya tebak. Permainan mereka sangat rapat dan rapi.

Selepas merasakan ledakan nuklir dari EN, saya lalu beranjak keluar venue untuk cari angin, sayup-sayup terdengar Rocket Airplane memainkan setnya. Musik yang mereka mainkan mengingatkan saya pada Blink182, kata seorang teman malam itu mereka juga sempat membawakan lagu dari Angel and Airwaves. Saya tidak begitu suka Blink182 kecuali album Enema Of The State, dan saya sama sekali tidak tahu lagu Angel and Airwaves namun dari pendengaran saya mereka bermain dengan rapi.

IMG_0328

Selanjutnya Saturday Night Karaoke (SNK), saya malas mengulas Trio Pop Punk asal Bandung ini karena musik mereka jelek… nggak deng bercanda, justru penampilan mereka yang saya paling saya tunggu-tunggu. Pop punk yang mereka mainkan merupakan gateway drug saya dalam memasuki scene punk sehingga bisa mengenal berbagai varian punk dan musik sidestream lainnya. Band-band seperti Green Day pra Nimrod, Descendents, The Queers, Screeching Weasel, MxPx dan band-band rilisan Lookout Records/Fat Wreck Chords menjadi soundtrack masa puber saya hingga kemudian saya mengenal punk rock lebih jauh. Secara subyektif, musik yang dimainkan SNK merupakan definisi dari sesungguhnya dari Pop Punk ketika kebanyakan band yang mengklaim diri mereka sebagai pop-punk jatuhnya terlalu punk rock atau justru terlalu ngepop dengan vokal menye-menye, lirik yang meratap-ratap atau tambahan synth tulat tulit yang mengganggu. Malam itu SNK memainkan beberapa lagu dari full length album mereka seperti Flaming Adolescent Passion, Anthem For The Grown Up Kobo Kun, Not FB, walau sayang seingat saya mereka tidak memainkan track favorit saya, Anaya (CMIIW). Puncaknya adalah ketika mereka memainkan sebuah lagu dari grup idola yang saat ini sedang naik daun, Bersepeda Berdua dari JKT48, beberapa wota yang biasanya denial, malam itu menunjukkan kewotaan mereka dengan ikut menyanyi Saya sendiri sempat kaget melihat orang-orang yang tidak tidak terlihat wota ternyata hafal lagu tersebut. Selain itu, yang menjadi kejutan bagi saya adalah mereka membawakan lagu J.A.R dari Green Day. Ya mengejutkan karena lagu tersebut tergolong tidak populer. Sempat menjadi soundtrack dari film Angus, lagu ini cukup berkesan bagi saya. Ketika SMP (sekitar tahun 1996-1999), saya adalah fans berat Green Day (hingga sempat mengirim surat ingin mendaftar Idiot Club, tapi sepertinya suratnya nggak nyampe 😥 ), sayang saat itu album yang beredar di Indonesia hanya Dookie, Insomniac, dan Nimrod, sementara dua album sebelumnya Kerplunk dan 1039 Smoothed Out Sloppy Hours cukup sulit untuk ditemukan, dan ketika menonton Angus lalu mendengar ada lagu Green Day di luar tiga album tersebut di atas, saya merasa senang dan sering menyewa VCD Angus hanya untuk mendengar lagu tersebut. Dimainkannya J.A.R oleh SNK sepertinya menyumbangkan 33,3% dari kegembiraan yang saya rasakan malam itu. Perasaan saya ketika J.A.R dimainkan sama seperti ketika AKB48 membawakan Reset, Only Today, Hashire Penguin, dan After Rain pada konser mereka bulan Februari lampau. Penampilan SNK membawa saya bernostalgia ke masa-masa SMP dan awal-awal SMA sebagai seorang remaja medioker yang merasa kurang beruntung dalam percintaan dan dipenuhi oleh kegamangan hidup a la remaja puber.

IMG_0375

Cloudburst menjadi klimaks bagi gig malam itu. Tampil sebagai band penutup bukannya membuat suasana menjadi dingin, sebaliknya crowd justru makin liar. Penonton yang tadinya cukup berdiri tiba-tiba menjadi beringas, ketiadaan panggung tak menghalangi beberapa orang untuk melakukan crowd surfing (dengan cara diangkat terlebih dahulu tentunya. He he he). Sama seperti EN, saya juga tidak menyimak musik metallic hardcore yang dimainkan Cloudburst, namun penampilan mereka yang chaotic dan penuh energi menjadi sesuatu yang mengasyikkan untuk dilihat. Saat itu saya sudah terlampau letih untuk ikut dalam liarnya crowd dan memutuskan untuk mengabadikan set mereka melalui kamera video HP saya, namun karena pencahayaan yang kurang menjadikan hasil rekaman saya begitu buruk dan akhirnya saya hapus saja. Keputusan untuk meletakkan Cloudburst di akhir acara, dan bukannya SNK adalah keputusan yang tepat. Siapapun yang menyusun set, dia benar-benar paham bagaimana menjaga tempo agar rangkaian acara berjalan dengan smooth dan antusiasme crowd tetap terjaga. Mungkin sang penyusun bisa mencoba menjadi wedding organizer.

IMG_0410

Dengan berakhirnya penampilan Cloudburst, selesai sudah rangkaian acara Saturday Night Karaoke Sruput Tour chapter Jogja, dan seperti kebanyakan acara kolektifan lainnya. Sesi ramah-tamah, handshake, hi-touch, two-shot atau group shot menjadi semacam agenda wajib untuk mempererat Ukhuwah. Menarik sekali mengingat band yang main maupun penonton yang hadir berangkat dari latar belakang musik yang berbeda namun semacam tidak ada sekat-sekat untuk saling mengakrabkan diri. シアワセ!

IMG_0317

foto-foto oleh Lawung Panji Sadewa. Terimakasih Lawung.

Iklan

Read Full Post »

“All Human Are Weird Pretentious Asshole” adalah judul dari sebuah acara launching album dari dua band, YK\\DK dan Energy Nuclear dan kebetulan nama acara tersebut diambil dari judul masing-masing album kedua band yang punya hajat, All Humans Are Weird dari Energy Nuclear dan We’re All Pretentious Asshole dari YK\\DK. Tadinya saya malas datang ke acara ini gara-gara GTA V yang sudah sukses terinstall di PC, namun rasa penasaran terhadap salah satu penampil membuat saya urung menghabiskan malam minggu bersama trio Michael, Trevor dan Franklin.

Sen, begitulah nama band yang menggelitik rasa penasaran saya, bukan.. bukan musikalitas mereka yang membuat saya penasaran melainkan setiap kali saya melihat-lihat profil adik-adik lucu dari scene cosplay/jejepangan saya selalu menemukan akun gitaris Sen di bagian mutual friend. Hehe.

Acara dibuka oleh salah satu empunya hajat, YK\\DK, sayang sih masih sepi jadi kerasa datar. Mereka menutup set dengan Wasted dari Black Flag, eh tapi ada beberapa penonton teriak ankoru (apaan) sehingga mereka menambah satu lagi, We’re pretentious Asshole yang sebenernya udah mereka bawain, jadi semacam repost gan.

YK\\DK ngemot mic

YK\\DK ngemot mic.

Selanjutnya SEN, wajah personelnya terlihat asing bagi saya kecuali gitarisnya (yang saya singgung di atas), sempat kepikiran mereka tipikal orang-orang yang akun facebooknya pakai nama jepang dan kalau pulang ke rumah teriak TADAIMAAAA, tapi dilihat dari tampangnya kayaknya engga deh. Sempat membawakan Linda Linda dari Blue Hearts. Mendengar musik punk melodius yang mereka mainkan saya berharap SEN bisa lebih produktif dan sering manggung. Release more stuff please 😀

DSC_5302

SEN nekonekonekonekoneko.

Lefty Fish berhasil membuat area depan panggung jadi penuh. Suara vokalisnya pas ngomong mirip mbak-mbak Customer Service atau mbak-mbak yang ngomong “Pintu teater satu telah dibuka”. Oh iya, ini merupakan penampilan perdana mereka. Dua single yang mereka luncurkan via soundcloud berhasil bikin banyak orang kagum. (entah kagum beneran apa pura-pura kagum biar dianggap paham musik model gini). Oh iya sempat ada diskusi kecil sama teman mengenai arti dari Lefty Fish, apakah ikan kidal, atau ikan sisa. Ya kalau sisa kan harusnya leftover tapi logo band ini gambar tulang ikan, jadi bisa saja lefty diambil dari leftover. Hingga saya memutuskan untuk nggak tanya sama personel band yang bersangkutan.

DSC_5336

Pintu teater satu telah dibuka.

Belulang Besi, izinkan saya menulis “CRUST AS FUCK! FUCK AS PUNK!!!!!” untuk menutupi ketidaktahuan saya mengenai musik yang mereka mainkan. Ya memang kalimat yang exaggerated sangat cocok untuk menutupi hal-hal yang tidak kita pahami. Oke, kalau begitu saya akan mengulas hal lain dari band ini yaitu fashion pemain bassnya. Beberapa teman bilang gaya berpakainnya mirip Visual Kei Jepang, tapi saya malah teringat GD tapi kan GD fashionnya sedikit banyak terinspirasi punk. Jadi intinya tetep punk.

DSC_5370

Belalang Besi

Cloudburst. Saya baru tau ternyata band ini dulu bernama Unrest, ya memang nama Cloudburst lebih keren walau mengingatkan saya akan kisah sepasang manula lesbian. Maap maap. Kalau ngomongin musik saya juga nggak begitu ngeh dengan musik yang mereka bawakan, kata teman-teman sih kayak Converge, tapi Converge itu apa saya juga ngga tau. Nah yang jelas penampilan mereka berhasil memanaskan area pinggiran panggung. Lama sekali nggak lihat keriaan seperti ini.

Pokoke mbengok

Pokoke mbengok

Energy Nuclear. Hmm gimana ya, jadi saya ini tipe orang yang selera musiknya berada di zona nyaman. Playlist saya dalam 15 tahun terakhir nggak pernah jauh-jauh dari Top 40 Oi!/Streetpunk, Oldschool Hardcore, dan Grup Idola Tiga Huruf Dua Angka, jadi ketika diperdengarkan musik seperti ini saya mbatin “uopoooo iki”. Eh tapi ini keren! Awalnya saya udah mau bodoamat sama EN, tapi beberapa part dari lagu-lagu mereka menarik perhatian saya. Progresi chord njelimet berhasil mereka bawain dengan flow yang halus, perpindahan antar part terasa lembut sehingga rasanya nggak seperti naik bajaj. Kebetulan beberapa bulan ini saya sedang tergila-gila dengan album kedua Tricot, nah EN ini mengingatkan saya pada Tricot, tapi tetap Tricot adalah Tricot dan EN tetaplah EN. Keduanya adalah entitas berbeda dengan karakter yang berbeda pula. Kalau dianalogikan dengan game, Tricot dan EN seperti Shen Mue (Dreamcast/Xbox) dan serial Yakuza (Playstation 2/3). Penampilan mereka ditutup dengan kolaborasi bersama dua member YK\\DK (Kalau nggak salah namanya Hilman dan Bogel) membawakan sebuah komposisi yang kayaknya berjudul All Humans Are Weird Pretentious Asshole. Pokoknya DECAYED NUCLEAR ENERGY AS FUCK YKYKYKYKYKYK(no! this exaggerated sentence is not meant to be cover for my lack of knowledge hehe). Kolaborasi ini langsung mengingatkan saya akan Temodemo No Namida versi Yokoyama Yui x Melody Nurramdhani Laksani yang dibawakan di Kokas tanggal 20 Februari lampau (atau malah Two Roses Matsui J dan Matsui R. Hehe ora deng). Penempatan EN di akhir acara memang keputusan yang tepat, klimaks.

Wis setem urung buwos?

Wis setem urung buwos?

Overall acara ini sangat memuaskan. Venue yang kecil dan pentonton yang tidak begitu membludak. Oh iya yang datang ke acara ini juga seimbang antara orang-orang yang sudah saya kenal dan wajah-wajah baru. Acara kecil semacam ini juga memicu interaksi yang lebih intens. Lineup dari acara ini juga mantep, masing-masing band yang main punya karakter sendiri-sendiri sehingga nggak bosen menyimak acara dari awal sampai akhir. Sip. Asik. Sampai jumpa. Dadah. Wassalam.

Boys Love <3 <3 <3

Boys Love

Mas mas, mbok dodolanku dituku.

Mas mas, mbok dodolanku dituku.

AKU BUTOOOO HA HA HA HA

AKU BUTOOOO HA HA HA HA

Wis ah kesel.

Wis ah kesel.

Read Full Post »

Yogyakarta Zine Attack

pamplet kinoki

Barusan ini tadi saya baru aja pulang dari acara Yogyakarta Zine Attack. Acara ini sih niatnya pengen ngadain pameran zine, pemutaran film tentang zine, sama gigs musik. Hmm tapi sayangnya pemutaran film 100 dollars and A T-Shirt batal dikarenakan masalah teknis (kalo ga salah gara-gara proyektornya rusak plus CD yang scratch).

Sebelum bicara lebih jauh tentang acara ini, mungkin perlu saya sedikit mengungkit tentang apa sih zine itu? Zine itu kependekan dari fanzine, yaitu salah satu bentuk media cetak (meskipun sekarang ada juga yang rilis digital dalam bentuk blog atau pdf) alternatif, dimana zine itu bersifat self-published, non-komersil, dan sirkulasinya terbatas. Nah oleh karena zine itu bersifat sedemikian, maka zine bisa dikatakan sebagai suatu media yang pengerjaannya berasaskan D.I.Y (do it yourself), artinya zine itu diterbitkan secara swakelola, dibuat tanpa memikirkan untung-rugi secara material, dan dibuat berdasarkan keinginan si pembuat zine itu tanpa ada tekanan dari pihak luar, jadi zine itu berisikan suka-sukanya si pembuat zine. Isi Zine sendiri bermacam-macam, mulai dari musik, isu politik, isu gender, personal, gosip, atau malah bahkan curhatan si pembuatnya. Kalau dari hemat saya sih kemunculan zine itu dipicu dari ketidakpuasan akan media mainstream yang kadang isinya terlalu menuruti selera pasar, dan juga kadang sering menimbulkan bias akan suatu isu, nah zine ini digunakan sebagai counter/alternatif dari media mainstream yang emang kadang-kadang ngebosenin itu.

Oke kembali bicara tentang acaranya. Untuk pameran, jujur aja saya agak kecewa sama pamerannya, soalnya tuh isinya cuman zine-zine yang digantung-gantung gitu aja kayak jemuran, sebenernya hadirin (cieeh.. hadirin..) mungkin diharapkan untuk membaca atau seengaknya mengintip zine-zine tersebut, tapi yah… secara acaranya diadain pada suatu senja hari nan menyayat hati plus penerangan yang kurang, jadi kayaknya susah untuk baca-baca di situ. Sebenernya harapan saya di acara itu panitia juga mengadakan semacam workshop atau diskusi tentang zine sebagai salah satu media alternatif, tapi yah.. mungkin dikarenakan persiapan yang kurang atau bagaimana gitu, jadi yang ada pameran zine ini jadi terkesan cuman tempelan aja.

Enough about exihibition! Nah kalo untuk gigs musik-nya sendiri, aww it’s fucking awesome! Nggak ada panggung, nggak ada pembatas, yang ada cuman ruangan sebesar garasi, setumpuk ampli, dan musik-musik ngebut! Ruangan yang sempit bener-bener ngebuat interaksi antara performer dan audiens makin mantep! Sumpah asyik banget nih kalo ada acara musik kayak gini lagi (asal penonton jangan banyak-banyak, ntar bisa-bisa kejadian Beside terulang).  Singkat kata, acara malem itu ngingetin saya sama beberapa footage yang ada di film American Hardcore, sebuah film dokumenter tentang scene HC/Punk Amerika di taun 80-an.

Segini aja lah, soalnya saya udah ngantuk. Oiya, selamat buat panitia ya! acara kalian lumayan keren! Lain kali mungkin perlu dipertimbangkan untuk bikin event yang lebih gede, mmm semacam D.I.Y (Do It Yourself) fest gitu lah, seengaknya untuk memperkenalkan etos kerja D.I.Y/indie ke segmen yang lebih luas. Nggak cuman sekedar pameran, tapi mungkin ada workshop atau diskusinya juga. Oiya, kalo menurut saya sih etos kerja D.I.Y/indie itu nggak cuman ada di zine publishing aja, tapi juga bisa berupa karya-karya lain, seperti misalnya film, musik, event organizing, atau bahkan operating system/software komputer (semacam software-software freeware yang open source, that’s D.I.Y!). Seenggaknya dengan adanya acara itu nantinya bisa ngebuka mata sebagian besar kalangan yang udah punya pendapat kalo term indie itu sebatas skinny jeans, baju distro, sok nyeni, sok freak, dan The Upstairs.

Adya – 2:40 A.M with 22% soberity. Muah Muah! Love you all 😉

Read Full Post »

D

Read Full Post »

Nggak bisa banyak komentar tentang gigs ini, soalnya saya lebih banyak berada di luar venue. Niatnya emang cuman sekedar main ama ketemu temen-temen, tapi karena Om Kecenk rekues pengen band-nya di poto maka saya juga jepret-jepret sedikit. Cuman Stronger Than Before sama This Heart yang sempet kejepret, yang lainnya nggak.. hehehe.. maaf yaaa. Nah karena emang niat awal dateng ke gigs cuman kongkouw *ceileh* jadi yaa ngga merhatiin band-band yang main so saya ngga bisa ngereview macem-macem. Yang jelas banyak anak kembar di gigs itu (potongan sama gaya-nya mirip -terutama yang cewek)

What is Hardcore show without circle pit and a little violence. har..har..har..

Read Full Post »

Gigs yang diorganize oleh temen-temen Kongsi Jahit Jahat Syndicate ini menurut jadwal di rundown dimulai jam delapan malem, tapi sejak jam lima sore udah banyak orang yang berdatangan ke LIP untuk cari tiket. Nah karena jumlah tiket yang dijual memang dibatesin sampe 200 tiket, walhasil, belum genep jam tujuh, tiket udah sold out dan banyak calon penonton yang kecele’ (sebelumnya tiket juga dijual di beberapa ticket box, wah tau gini jadi calo dah..)

sold out!

sold out

Sebelum acara di mulai jam delapan malem, pengunjung dan penonton diberi kesempatan untuk nyablon kaos Tika secara cuma-cuma, asal ya bawa kaos sendiri, wah cukup D.I.Y sekali yaaa.. he he he he…

sablon

sablon gratis

Oiya selama menunggu gigs dimulai ada cerita yang lumayan lucu (tapi agak-agak sedih juga sih). Jadi gini.. ada Sepasang suami istri paruh baya dateng bersama empat orang anaknya yang masih kecil-kecil (yang paling gede kira-kira kelas empat SD). Nah setelah usut punya usut, ternyata keluarga itu salah sangka, dikiranya Tika yang bakal konser malem itu tuh Tika-nya AFI (yang ngetop lewat lagu OKE, barengan lesbiannya si Tiwi AFI dalam duet T2).

Oke Oke.. udah cukup ngebahas kesalahpahaman itu, sekarang langsung aja ngebahas acaranya. Jam delapan malem teng, acara dimulai. Panggung dibuka oleh Risky Summerbee and The Honeythief, dengan suguhan “gado-gado” Blues dalam balutan Psychedelic yang cukup atraktif dan membuat bulu kuduk merinding(halah bahasaku sok sangar..). Oiya Risky Summerbee ini juga dikenal sebagai frontman dari band nextofkin. Ah penampilan mereka malem itu memang pantes diacungi jempol, meskipun jujur aja, musik mereka bukan selera saya, tapi performa mereka (terutama Risky tentunya), cukup mengundang kekaguman. Risky mampu membuktikan kalau dia memang performer yang handal di atas panggung, dia bernyanyi, bermain gitar, bermain piano, berteriak, jingkrak-jingkrak, dan nglesot-nglesot.

Risky

Risky Summerbee

Setelah kurang lebih 40 menitan panggung dihangatkan oleh Risky Summerbee and The Honeythief, tiba-tiba panggung dikejutkan oleh seorang MC dadakan, eng ing engg.. siapakah dia? Ternyata dia adalah Bagus Mortal Combat! agak lucu juga ngeliat vokalis band thrash/hc kugiran ini tau-tau jadi mc di acara beginian, padahal aslinya tugasnya Bagus tuh jadi penjaga pintu. he he he.

Mc Bagus

Mc Bagus

Band Selanjutnya yang main adalah Oh,Nina!, band Electropop yang kaya akan sound sampling dan loop tapi karakter vokalnya mirip-mirip Robert Smith. Selama sekitar 40 menit Oh, Nina! Mampu menghadirkan atmosfer futuristik bercampur dengan aroma vintage di venue. Sekali lagi, meskipun saya bukan penggemar musik macem ginian, tapi tetep aja saya akui performa mereka keren, he he he he. Sekedar info aja, sebelumnya Oh, Nina! Bukan band electropop, tapi band indie-pop yang sama sekali ngga ada unsur-unsur sampling dan loop.

oh nina

Oh, Nina!

Setelah Oh, Nina! Turun panggung. Mc Bagus kembali ngecipris di atas panggung, kali ini Bagus nggak sendirian, tapi ditemenin sama Ojie, temen seperjuangannya di Mortal Combat. Bagus yang tadinya keliatan agak-agak grogi dan salah tingkah, sekarang udah mulai bisa menguasai panggung, ntah karena ada temennya, atau karena kadar alkohol dalam darah udah meningkat (penting gak sih ngebahas Mc?).

Ada satu kejutan lagi di gigs kali ini. The Monophones yang batal main digantikan oleh Luky Annash. Siapakah gerangan Luky Annash? Dia adalah kibordis/pianis dari Tika yang juga merupakan adik dari Eka, vokalis The Brandals. Apa yang dilakukan di atas panggung? Apakah dia akan menari bugil? Oh tentu tidak, ternyata selain terkenal sebgai kibordisnya Tika(atau lebih tepatnya kurang terkenal, lha wong saya aja kenalnya baru malem itu..), Luky juga merupakan pianis solo yang memainkan piano-nya sambil menyanyi menjerit-jerit. Agak-agak keinget sama Fiona Apple dan Tori Amos. Tapi malam itu Luky cukup membawakan tiga lagu saja, salah satunya berjudul Bajingan Ibukota (lainnya saya lupa..). Mantap, saya kira Luky bisa jadi the next big thing dalam industri musik Indie.

Luky

Luky Annash

Luky meninggalkan panggung, kembali Mc ngecipris. Sementara Mc masih terus saja ngecipris, kru Tika mulai mempersiapkan panggung.. Ugh.. Gilaaa, ternyata properti yang dibawa ke atas panggung cukup banyak dan “unik”, ambil contoh, sofa, meja, vas bunga, lampu bohlam, payung, plus mic yang dihiasi bunga) edunnn…

Setelah set pangung tertata rapi dan band pengiring siap di posisinya masing-masing, penonton diharuskan menunggu cukup lama, bukan karena Tika-nya sok ngartis apa dia lagi be’ol di belakang, tapi penonoton sengaja disajikan tayangan yang berisi kutipan-kutipan tentang berbagai isu-isu yang ada di Indonesia, seperti misalnnya isu tentang kebobrokan industri media dan hiburan, industri kecantikan, isu gender, dan sebagainya. Salah satu yang saya ingat tuh bunyinya kayak gini “Sekarang yang disukai itu artis dengan wajah-wajah indo, campuran bule. Kalo akting kan bisa dilatih” (kutipan dari “something” Muryono gitu.. katanya sih Artist Management and Talent Scout).

TIka 1

Tika

Baru deh pas tayangan slide abis, yang ditunggu-tunggu naik panggung. Sumpah, saya bingung harus ngereview apa, soalnya bener-bener ga gitu ngerti lagu-lagunya Tika, yang saya tau cuma lagu cover version dari Sue Thompson yang judulnya You Belong to Me (dimana pas denger lagu ini saya jadi keinget sama seseorang di sana.. he he he..*blushing* …Just remember till You’re home again.. You belong to me.. la la la la…). Oke, saya keliatan bego-nya nih, tapi kalau cuman sekedar sedikit mendeskripsikan musiknya, hmm.. in my humble opinion it’s a mix of Jazz and Trip-Hop. Bicara tentang performa panggung, performa Tika bisa dibilang .. hmm let say in Popomundo’s way.. It’s Mind Melting, guess she has five stars or more in basic showmanship skill, he he he. Tika memiliki kemampuan komunikasi dengan penonton yang cukup baik, Ia mampu menciptakan suasana akrab antara performer dengan audience. Hangat dan bersahabat. Dalam setiap jeda lagu ia juga selalu menyempatkan sedikit bercerita tentang lagu yang akan dibawakannya. Salah satu yang saya inget tuh waktu dia bercerita kalau dia pernah jadi Slanker pada taun 90an, dan kalo Slank lagi main dia selalu bawa spanduk gede bertuliskan Spankers (seharusnya Slankers, tapi salah sablon), and then.. dia ngebawain sebuah lagu dari Slank (yang saya ga tau judulnya, he he he..).

Tika 2

Tika 2

Sekitar pukul sebelas, Tika mengakhiri penampilannya malem itu dengan satu lagu baru yang berjudul Mayday, bisa ditebak dari judulnya, lagu itu bercerita tentang buruh. Entah kenapa, lagu itu kok malah ngingetin saya sama lagu-lagunya Chumbawamba era awal 90an. Mungkin karena tema yang agak-agak kiri itu plus irama yang penuh semangat dan bernuansa punk rock yang ngingetin saya sama Chumbawamba. Ah mungkin itu cuma perasaan saya aja.

tika wide

Tika 3

Oke. Pertunjukan selesai, dan penonton pulang ke rumah masing-masing, sementara panitia beres-beres dan makan malam.

Read Full Post »