Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘reviews’ Category

IMG_20150901_234409

Reason To Die (RTD) merupakan salah satu nama yang cukup berpengaruh dalam dinamika scene Yogyakarta Hardcore (YKHC). Kehadiran mereka di tengah-tengah stagnansi YKHC pada pertengahan 2000-an seolah-olah mengisi kekosongan saat itu. Pun persona galak dan warna musik beatdown yang mereka bawakan menjadi semacam pemicu bagi perkembangan hardcore di Yogyakarta sejak akhir 2000-an hingga sekarang. Berdiri pada tahun 2006, RTD langsung menggertak dengan lagu mereka “False Hardcore Fall”. Sebuah tamparan keras bagi fenomena fashioncore yang marak saat itu. Lagu tersebut langsung menjadi semacam anthem bagi mereka yang jengah dengan fashioncore.

Butuh waktu lama bagi mereka untuk merilis sebuah full length, Yap, baru tahun 2015 ini album mereka yang bertajuk Undefeated dirilis melalui Samstrong Records. Saya bukan penikmat musik hardcore galak a la Throwdown, Hatebreed, Cast Aside, First Blood, dan sebagainya. Musik yang mereka mainkan memang selalu berhasil membuat saya manthuk-manthuk sambil mbatin “wah enak juga ya” tapi tidak pernah sampai meninggalkan kesan mendalam dan hanya menjadi semacam musik sambil lalu. Walau demikian, saya merasa perlu menyimak album ini dengan alasan historis-lokalitas seperti disebut di atas.

Jika mengabaikan intro, Undefeated dibuka dengan track THINK, LEARN,PROVE, sebuah track yang secara tedas menampar mereka yang melanggar komitmen (sepertinya lagu ini tentang gadis yang sudah memutuskan untuk berjilbab tapi tiba-tiba ia melepas jilbabnya). Bagi saya, durasi yang singkat menjadikan lagu ini sukses sebagai pengantar dalam menyimak track-track selanjutnya. ***

FIGHT OR DIE. Track favorit! Penuh semangat dan ledakan energi. Toh tema klise mengenai perjuangan hidup tidak membuat mereka terjebak dalam penulisan lirik yang terlalu cheesy. Durasi yang cukup lama tidak lantas menjadikan track ini monoton. Progresi-variasi dalam track ini sangat menarik. Manuver dari growl ke shout hingga rap a la RATM yang dilakukan divisi vokal menjadikan lagu ini jauh dari kesan membosankan. ****

BERSAMA, sebuah lagu cover dari Strength to Strength, band Hardcore Yogyakarta era awal 2000an. Cukup mengejutkan melihat ada lagu ini dalam tracklist mereka. Sempat ada keraguan apakah RTD mampu membawa semangat Youth Crew yang kental di lagu ini. Well.. they did it quite good. Di awal lagu aransemennya tidak berbeda jauh, namun memasuki tengah hingga akhir, mereka mampu memberi warna tersendiri tanpa harus keluar jauh dari koridor 88 Hardcore. ***

Entah apa maksud ada lagu anak-anak Di sini senang, di sana senang di awal lagu SLAM (VIOLENCE) DANCE, bagi saya ini cukup menganggu karena menurunkan pace yang sudah dibangun sejak track pertama, tapi ya suka-suka mereka sih. Bukan saya yang biayain produksi album mereka. Durasi yang singkat pun masih terpotong oleh di sini senang di sana senang dan lagi track ini terlalu berat bagi saya walaupun tema yang diangkat bagus. **

RAURUSAN CUK! Mampu mengembalikan pace yang tadinya turun gara-gara sana-sini senang. Tema klasik hardcore mengenai teman palsu dibalut dengan kearifan lokal. Beberapa bagian terdengar jenaka membuat saya mampu mendengar lagu ini tanpa merasa dimarah-marahin (hidup sudah susah, dengerin musik niatnya buat santai eh kok malah dimarah-marahin). Bagian “Koyo Cangkem Keple” merupakan hook bagi saya untuk lagu ini. Track favorit kedua! ****

Durasi yang terlalu lama dan minim variasi membuat ANGER cukup membosankan. Bagi saya, 7 menit 47 detik terlalu lama untuk sebuah track hardcore.Tidak ada progresi yang menarik, hanya breakdown zeng zeng zeng zeng yang terlalu banyak. Untungnya sekelumit solo gitar di akhir lagu bisa menunda saya untuk ketiduran. Least favourite track! **

DEADBEAT satu lagi lagu cover, kali ini dari CAST ASIDE. Sedikit lebih ngebut dari versi aslinya sehingga lebih terasa punkish membuat saya lebih memfavoritkan versi RTD. Versi aslinya juga terasa lebih flat ***

LIAR dibuka dengan ketukan drum yang nyantol lalu part zeng zeng zeng dengan shout shout yang emosional. Tentu ini track yang sangat emosional dan penuh ledakan. Vokal yang bersahut-sahutan dan part-part drum yang menggelayut menjadikan track ini lagi-lagi mendapat empat bintan ****

Dari judulnya sudah ketahuan tema apa yang diangkat dalam track TRUE FRIEND RESPECT, Pertemanan sepertinya memang menjadi tema favorit bagi kebanyakan band hardcore. Seperti temanya yang klise, secara aransemen musik juga tidak ada yang terlalu istimewa di sini. Tipikal lagu sambil lalu yang enak didengerin tapi tidak memiliki sesuatu yang bikin saya kecantol ***

Sebagai penutup, UNDEFEATED mampu menjalankan perannya dengan baik. Dibuka dengan sampling dari NOFX dilanjutkan dengan gang shout yang rancak. Renyah! Demikian kesan saya mengenai track terakhir (di luar outro) ini. ****

Secara keseluruhan album UNDEFEATED merupakan album yang menarik. Ketakutan saya akan terlalu banyak part zeng zeng zeng zeng pupus sudah. Sebagai sebuah band hardcore yang mendapatkan influence dari band-band beatdown, RTD tidak terjebak dalam breakdown breakdown membosankan. Mereka mampu sedikit genit bermain-main di ranah lain dan hasilnya surprisingly good! Saya hampir lupa kalau seluruh personel mereka Straight Edge, sebab dalam album ini mereka tidak secara eksplisit menunjukkan identitas mereka sebagai Straight Edge (Mungkin ada di track pertama, tapi melanggar komitmen pun bisa diaplikasikan di ranah yang lebih luas, bukan sekedar break the edge atau lebas jilbab)

Overall Score : ***

Read Full Post »

IMG_0357

Di usia yang sudah mencapai kepala tiga ini, cukup sulit rasanya bagi saya untuk bisa menikmati sebuah pertunjukan musik, biasanya saya datang hanya sekedar nongkrong demi menyambung silaturahmi dengan teman-teman. Ya, kesibukan seringkali jadi kambing hitam bagi sempitnya ruang interaksi tatap muka sehingga saya memanfaatkan acara musik yang ada sebagai media temu kangen. Maka, dibandingkan acara skala besar yang dipenuhi orang asing, saya lebih suka datang ke acara kecil-kecilan yang dihadiri oleh segelintir wajah-wajah akrab. Duduk di lapakan sambil mengobrol merupakan aktivitas favorit saya ketika menghadiri sebuah pertunjukan musik dan lalu pulang tanpa membawa kesan apapun.

Demikian, bukan berarti saya tidak bisa menikmati lagi pertunjukan musik sebagai pertunjukan musik, dalam lima tahun terakhir ini tercatat ada empat acara yang memberikan kesan mendalam bagi saya, yaitu Indonesian Netaudo Festival 1, #BingoDIY, Launching Album Perdana Rabu, dan Launching album YK//DK x Energy Nuclear (atau mungkin bisa ditambahkan konser AKB48 x JKT48 :P). Sebuah pertunjukan saya sebut berkesan adalah ketika saya hadir di situ bukan hanya sebagai ajang bersosialiasi, namun juga bisa merasakan sepenuhnya gig experience dari acara tersebut sehingga atmosfirnya masih terasa hingga sepekan atau lebih.

Jum’at malam pekan lalu, bertepatan dengan Peringatan Hari Pramuka, saya kembali menemukan kegembiraan dalam sebuah pertunjukan musik. Teman-teman dari YKBooking semacam menjadi agen pembawa kegembiraan dengan acara mereka , Saturday Night Karaoke Sruput Tour 2015 chapter Jogja. Acara yang menghadirkan lima band yaitu Barokah, Energy Nuclear, Rocket Airplane, Cloudburst, dan Saturday Night Karaoke tersebut diadakan di basement pengap sebuah kampus swasta dan dihadiri kurang dari 50 orang namun dipenuhi oleh kehangatan.

Tercatat di pamflet, acara dimulai pukul 7 malam, sementara kegiatan saya di kantor baru selesai pukul 7.15, namun mengingat kebiasaan ngaret yang sudah dianggap hal lumrah di setiap pertunjukan musik, maka saya merasa tidak perlu untuk terburu-buru sehingga menyempatkan untuk mampir di sebuah mini market untuk menumpang cuci muka. Nah! Benar juga, saya tiba di venue sekitar jam 8 dan acara belum dimulai. Tampak wajah-wajah akrab di sekitaran venue sehingga waktu luang tersebut saya manfaatkan untuk menyapa dan sedikit beramah-tamah dengan pertanyaan basa-basi seperti “karo sopo bro? Wis ket mau bro? Ngelapak ora bro? Tegar teko ra bro? Ora karo Robert bro? Nomermu isih sing mbiyen toh? Wis rabi bro? Nyilih korek bro” sebagai pembuka obrolan.

Acara dimulai sekitar pukul 8.15. Barokah hadir sebagai penampil pertama sementara saya masih asyik beramah-tamah dengan teman-teman, termasuk menyapa teman-teman Saturday Night Karaoke sehingga kurang begitu memperhatikan band tersebut. Barokah sendiri memainkan pop-punk/skate-punk/melodic-punk atau semacamnya. Malam itu penampilan mereka masih kurang rapih tapi cukup lumayan untuk memanaskan awal acara yang masih sepi.

IMG_0311

Dilanjutkan oleh Energy Nuclear (EN). Band yang konon katanya memainkan musik mathcore ini sudah sempat membuat saya jatuh hati melalui penampilan mereka di launching album YK//DK x Energy Nuclear. Saya sama sekali tidak menyimak mathcore dan band-bandnya, namun penampilan mereka yang penuh ledakan energi benar-benar membuat saya terpesona, sayang sekali saya tidak menemukan ledakan yang sama dalam album mereka yang berjudul “All Humans Are Weird”. Bukan..bukan berarti album rilisan Rusty Nails tersebut tidak layak disimak, album tersebut tentu sebuah album yang menarik untuk disimak, namun sepertinya sekeping Cakram Digital tidak mampu menampung luapan energi mereka sehingga mentonton mereka secara live adalah satu-satunya jalan untuk bisa merasakan pengalaman menikmati sajian EN sepenuhnya, dan malam itu EN kembali tampil dengan sangat apik. Melihat penampilan mereka tersebut, kadang saya ingin sekedar manthuk-manthuk dan gedheg-gedheg , kadang ingin merem-melek sambil sedikit berkontemplasi, dan tiba-tiba saya ingin mengepalkan tinju ke udara, lalu mengepalkan tinju ke tanah, kemudian ingin meloncat-loncat pakai trampolin, berulang begitu terus melalui progresi yang tidak bisa saya tebak. Permainan mereka sangat rapat dan rapi.

Selepas merasakan ledakan nuklir dari EN, saya lalu beranjak keluar venue untuk cari angin, sayup-sayup terdengar Rocket Airplane memainkan setnya. Musik yang mereka mainkan mengingatkan saya pada Blink182, kata seorang teman malam itu mereka juga sempat membawakan lagu dari Angel and Airwaves. Saya tidak begitu suka Blink182 kecuali album Enema Of The State, dan saya sama sekali tidak tahu lagu Angel and Airwaves namun dari pendengaran saya mereka bermain dengan rapi.

IMG_0328

Selanjutnya Saturday Night Karaoke (SNK), saya malas mengulas Trio Pop Punk asal Bandung ini karena musik mereka jelek… nggak deng bercanda, justru penampilan mereka yang saya paling saya tunggu-tunggu. Pop punk yang mereka mainkan merupakan gateway drug saya dalam memasuki scene punk sehingga bisa mengenal berbagai varian punk dan musik sidestream lainnya. Band-band seperti Green Day pra Nimrod, Descendents, The Queers, Screeching Weasel, MxPx dan band-band rilisan Lookout Records/Fat Wreck Chords menjadi soundtrack masa puber saya hingga kemudian saya mengenal punk rock lebih jauh. Secara subyektif, musik yang dimainkan SNK merupakan definisi dari sesungguhnya dari Pop Punk ketika kebanyakan band yang mengklaim diri mereka sebagai pop-punk jatuhnya terlalu punk rock atau justru terlalu ngepop dengan vokal menye-menye, lirik yang meratap-ratap atau tambahan synth tulat tulit yang mengganggu. Malam itu SNK memainkan beberapa lagu dari full length album mereka seperti Flaming Adolescent Passion, Anthem For The Grown Up Kobo Kun, Not FB, walau sayang seingat saya mereka tidak memainkan track favorit saya, Anaya (CMIIW). Puncaknya adalah ketika mereka memainkan sebuah lagu dari grup idola yang saat ini sedang naik daun, Bersepeda Berdua dari JKT48, beberapa wota yang biasanya denial, malam itu menunjukkan kewotaan mereka dengan ikut menyanyi Saya sendiri sempat kaget melihat orang-orang yang tidak tidak terlihat wota ternyata hafal lagu tersebut. Selain itu, yang menjadi kejutan bagi saya adalah mereka membawakan lagu J.A.R dari Green Day. Ya mengejutkan karena lagu tersebut tergolong tidak populer. Sempat menjadi soundtrack dari film Angus, lagu ini cukup berkesan bagi saya. Ketika SMP (sekitar tahun 1996-1999), saya adalah fans berat Green Day (hingga sempat mengirim surat ingin mendaftar Idiot Club, tapi sepertinya suratnya nggak nyampe 😥 ), sayang saat itu album yang beredar di Indonesia hanya Dookie, Insomniac, dan Nimrod, sementara dua album sebelumnya Kerplunk dan 1039 Smoothed Out Sloppy Hours cukup sulit untuk ditemukan, dan ketika menonton Angus lalu mendengar ada lagu Green Day di luar tiga album tersebut di atas, saya merasa senang dan sering menyewa VCD Angus hanya untuk mendengar lagu tersebut. Dimainkannya J.A.R oleh SNK sepertinya menyumbangkan 33,3% dari kegembiraan yang saya rasakan malam itu. Perasaan saya ketika J.A.R dimainkan sama seperti ketika AKB48 membawakan Reset, Only Today, Hashire Penguin, dan After Rain pada konser mereka bulan Februari lampau. Penampilan SNK membawa saya bernostalgia ke masa-masa SMP dan awal-awal SMA sebagai seorang remaja medioker yang merasa kurang beruntung dalam percintaan dan dipenuhi oleh kegamangan hidup a la remaja puber.

IMG_0375

Cloudburst menjadi klimaks bagi gig malam itu. Tampil sebagai band penutup bukannya membuat suasana menjadi dingin, sebaliknya crowd justru makin liar. Penonton yang tadinya cukup berdiri tiba-tiba menjadi beringas, ketiadaan panggung tak menghalangi beberapa orang untuk melakukan crowd surfing (dengan cara diangkat terlebih dahulu tentunya. He he he). Sama seperti EN, saya juga tidak menyimak musik metallic hardcore yang dimainkan Cloudburst, namun penampilan mereka yang chaotic dan penuh energi menjadi sesuatu yang mengasyikkan untuk dilihat. Saat itu saya sudah terlampau letih untuk ikut dalam liarnya crowd dan memutuskan untuk mengabadikan set mereka melalui kamera video HP saya, namun karena pencahayaan yang kurang menjadikan hasil rekaman saya begitu buruk dan akhirnya saya hapus saja. Keputusan untuk meletakkan Cloudburst di akhir acara, dan bukannya SNK adalah keputusan yang tepat. Siapapun yang menyusun set, dia benar-benar paham bagaimana menjaga tempo agar rangkaian acara berjalan dengan smooth dan antusiasme crowd tetap terjaga. Mungkin sang penyusun bisa mencoba menjadi wedding organizer.

IMG_0410

Dengan berakhirnya penampilan Cloudburst, selesai sudah rangkaian acara Saturday Night Karaoke Sruput Tour chapter Jogja, dan seperti kebanyakan acara kolektifan lainnya. Sesi ramah-tamah, handshake, hi-touch, two-shot atau group shot menjadi semacam agenda wajib untuk mempererat Ukhuwah. Menarik sekali mengingat band yang main maupun penonton yang hadir berangkat dari latar belakang musik yang berbeda namun semacam tidak ada sekat-sekat untuk saling mengakrabkan diri. シアワセ!

IMG_0317

foto-foto oleh Lawung Panji Sadewa. Terimakasih Lawung.

Read Full Post »

tanocan

Kebetulan hari ini media sosial sedang ramai-ramai membahas kisah heroik seorang pengendara sepeda dalam menghadapi arogansi pengedara motor gede. Menarik sih melihat berbagai opini yang muncul. Lucu dan menggemaskan! Melihat kehebohan netizen tersebut saya kemudian merasa terpanggil untuk turut menyumbangkan sebuah tulisan mengenai motor gede (moge).

Begitu dengar kata moge tentu yang muncul di pikiran seorang yang awam otomotif seperti saya adalah Harley Davidson, nama besar ini mengingatkan saya akan sebuah game yang berjudul Harley Davidson: The Road To Sturgis (selanjutnya saya singkat jadi HDTRTS saja ya biar ngga kepanjangan). Saya ingat betul dulu membeli game ini pada tahun 1994 seharga Rp. 4.500,00 di sebuah toko kecil bernama Mario yang terletak di Jl. Malioboro. Kala itu saya tertarik membeli game ini karena covernya mengingatkan saya akan salah satu serial laga favorit yang berjudul Renegade.

Oke, langsung menuju ulasan gamenya saja ya. HDTRTS ini bisa dibilang genrenya balapan, namun tidak seperti balapan kebanyakan yang saya mainkan pada masa itu, HDTRTS kaya akan fitur simulasi dengan tambahan elemen character development a la RPG. Bagi saya yang pada masa itu lebih akrab dengan game balap arcade semacam Lotus, Outrun, dan Super Hang On, tentu HDTRTS menjadi sebuah pengalaman baru.

HDTRTS meletakkan kita dalam posisi seorang biker yang hendak menghadiri sebuah event kumpul-kumpul biker di kota Sturgis, nah untuk mencapai tujuannya tersebut, kita diberi waktu selama 10 hari. Game dimulai dengan gaya RPG, kita dipersilahkan memberi nama karakter, memilih tingkat kesulitan, lalu melakukan alokasi stat yang terdiri atas Riding, Mechanic, Brawling, Wealth, dan Charisma.

Perjalanan panjang menuju Sturgis dimulai dari sebuah biker shop di kota Maine. Di biker shop, kita bisa melakukan upgrade terhadap motor kita, membeli perlengkapan yang menunjang kemampuan berkendara, mengisi bensin, atau mengikuti berbagai event yang bisa menambah uang kita. Biker shop bisa ditemui di setiap kota yang kita singgahi. Setiap biker shop memiliki item-item maupun event unik. Perlu diingat ya, kita cuma dikasih waktu 10 hari jadi jangan keasyikan belanja atau memainkan event!

Untuk riding sequence kita hanya diharuskan berkendara menghindari berbagai obstacle seperti batu, genangan air,atau mobil lain yang lewat. Riding stat kita berpengaruh besar di sini, semakin tinggi skill kita, maka stabilitas berkendara jadi makin baik. Walaupun terdengar simpel namun bagian ini ternyata tricky loh! Soalnya penggantian transmisi dilakukan secara manual (dengan cara menahan tombol Ctrl dan panah atas/bawah). Di sini kita juga bisa mendapat tambahan uang dengan cara memberi tumpangan pada orang-orang yang mobilnya mogok. Kecepatan perlu diperhatikan juga, karena kalau terlalu ngebut nanti kita bisa ditangkap polisi. Sayang sekali, dalam sequence ini, background yang itu-itu saja membuat berkendara terasa monoton.

Nah begitu sih, secara garis besar, HDTRTS mengharuskan kita berkendara dari satu kota ke satu lainnya hingga sampai ke tujuan akhir, yaitu Sturgis, di mana di setiap kota kita bisa melakukan berbagai modifikasi atau memainkan berbagai mini game events. Selama perjalanan kita bisa menemui berbagai halangan yang membuat kita gagal mencapai Sturgis seperti kehabisan uang, meninggal di perjalanan, motor rusak, ataupun melewati batas waktu 10 hari yang diberikan. Jujur saja, saya belum pernah berhasil mencapai tujuan! Hehe.

Afterall, game ini merupakan game yang lumayan bagus, kalau suruh kasih score yaa saya kasih score 3,5/5 laah. Hal yang paling mengganggu dari game ini adalah setiap kita pindah screen kita harus mendengarkan musik yang lumayan panjang dan ngga bisa diskip. Mungkin asyik juga ya andai game ini diremake dengan grafik dan teknologi terkini.

Saat ini HDTRTS sudah masuk kategori abandonware, artinya bisa dimainkan dengan gratis dan legal. Kalau mau coba bisa kunjungi tautan ini. Oke deh, semoga pengendara moge makin tertib dan santun ya. Kita yang bukan pengendara moge juga semoga bisa semakin bijak menyikapi berita-berita yang tersebar di dunia maya, serta Divisi Humas Polri bisa semakin paham tugasnya sebagai humas dan tidak lagi-lagi membuat blunder yang menjadi bumerang bagi citra polisi A.C.A.B.

matuirena

Read Full Post »

Selama bertahun-tahun banyaknya band hardcore di Yogyakarta tidak diimbangi dengan rilisan yang ada. Band-band lebih memilih merilis merchandise dan memperbanyak live show (ataupun jika ada band yang merekam satu-dua lagu, mereka memilih mendistribusikannya dengan cara yang tidak serius. Dari flashdisk ke flashdisk atau menunggahnya ke file hosting gratisan). Okelah, memang ada Something Wrong, Serigala Malam Throughout, Wound, Wicked Suffer dan Knockdown, tapi rilisan yang ada tetap saja tidak sebanding dengan kemeriahan scene hardcore Yogyakarta dalam rentang waktu enam-tujuh tahun ini.

2014 Merupakan tahun di mana banyak band hardcore lokal yang berani merekam dan mendistribusikan karya mereka secara serius dalam bentuk album. Tercatat ada See It Through, Stronger Than Before, Home Truth, dan YK\\DK yang merilis album (Maafkan jika ada rilisan lain yang terlewat, ketidakaktifan di scene hardcore membuat saya hanya bisa menyimak empat rilisan tersebut). Menariknya, keempat band tersebut masing-masing merepresentasikan varian hardcore yang berbeda.

Dalam tujuh tahun belakangan ini scene hardcore di Yogyakarta didominasi oleh band-band dengan sound berat dan “galak”, cukup menyegarkan ketika melihat ada satu band yang berusaha menghadirkan keriaan oldschool hardcore, ya See It Through. Belum genap satu tahun berdiri, band ini sudah merilis sebuah full length dengan judul “Youth Spirit Never End”. Sembilan track (plus satu overture -bukan bukan overture yang bunyinya “Everybody! A live act never seen before….” :p-) ini sukses membuat saya mengenang awal-awal saya mengenal music hardcore (dan tentu saja scene YKHC dengan band-band semacam Strength to Strength, Think Again, Same Direction), namun saya merasa mereka belum mengeluarkan potensi mereka seutuhnya. Lagu-lagu yang mereka mainkan masih terasa datar, tidak ada ledakan-ledakan energi yang berarti. Pun, secara subyektif tema-tema yang mereka angkat juga terasa klise bagi saya yang sudah terlanjur skeptis dengan isu semacam brotherhood, unity, being positive. Toh hal tersebut tidak berarti saya tidak bisa menikmati album ini. Secara keseluruhan album ini tetap menyenangkan untuk didengarkan sesekali sambil mengenang jaman2 ketika saya masih bisa menikmati gig hardcore. Oh iya, dan niat mereka untuk “Make Hardcore Fun Again” patut mendapat apresiasi.

Tidak seperti See It Through yang belum lama berdiri langsung merilis full length. Stronger Than Before yang berdiri pada tahun 2004 (CMIIW) ini bisa dibilang irit rilisan, hingga tiba-tiba mereka merilis full length berjudul “One Long Journey” di tahun 2014. Menyimak keseluruhan album ini saya semacam mendengarkan curhatan “aging hardcore kid” mengenai kegetiran akan perubahan-perubahan yang terjadi dalam scene hardcore sekarang ini. Eksis selama lebih dari satu dekade membuat STB menjadi saksi dari transformasi scene hardcore di Yogyakarta. Penuturan yang tidak menghakimi atau menggurui mencerminkan kedewasaan mereka. Secara musikal, album ini jauh dari kesan membosankan. Suara gitar yang bersahut-sahutan membuat lagu-lagu mereka terasa padat. Disayangkan sekali dengan materi sesolid ini, dalam penampilan livenya mereka malah lebih sering membawakan lagu dari band lain.

Sementara itu kehadiran Home Truth bisa dibilang mengisi kekosongan yang ditinggal This Heart. Kurangnya respon Scene Hardcore Yogyakarta terhadap varian Hardcore “nggerus” a la Miles Away, Verse, Go It Alone ini tak lantas membuat mereka tidak produktif. Setelah merilis split cassette dengan Think Again, pada pertengahan 2014 kemarin mereka merilis full length album dengan judul After Grey. Isu-isu personal tentu menjadi “kewajiban” bagi band-band semacam ini. Lirik puitis dan kontemplatif yang ditulis dengan kesalahan gramatikal yang minim menjadi nilai plus dari band ini. Kekhawatiran saya akan absennya emosi dari album ini karena vokal yang terasa flat di awal-awal lagu pun ternyata pupus. Divisi vokal latar Home Truth berhasil menyelamatkan album ini dari kemonotonan.

Tahun 2014 ditutup dengan full length perdana dari YK\\DK, We’re All Pretentious Asshole yang dirilis tepat di penghujung tahun 2014. Menyimak rilisan-rilisan mereka sebelumnya (dalam format raw demo) membuat saya berekspektasi tinggi terhadap full length mereka ini. Basically musik yang mereka mainkan berada di jalur hardcore/punk a la Black Flag, Dead Kennedys atau yang lebih mutakhir OFF! dan Raw Nerve, namun tidak berhenti di situ saja, mereka juga cukup “usil” untuk bermain-main dengan berbagai unsur bebunyian seperti Noise, Post-punk, bahkan surf tanpa harus keluar terlalu jauh dari koridor hardcore/punk. Sayangnya hal tersebut tidak saya temukan secara jelas dalam full length ini kecuali feedback gitar di beberapa lagu yang menghadirkan kesan noisy. Terlepas dari absennya keusilan mereka, album ini tetap menghadirkan lagu-lagu hardcore/punk yang kasar dengan lirik-lirik sinis namun komikal.

matuirena

Read Full Post »

tumblr_n7jo2yw1RE1rfx24fo1_500

Kriteria buku bagus menurut saya adalah buku yang ketika sudah mencapai penghujung cerita, saya merasa sedih karena harus segera berpisah dengan tokoh-tokoh di buku itu, kriteria lainnya adalah buku tersebut bisa saya baca hingga 3-4x tanpa merasa bosan, dan setiap membaca ulang selalu ada pemahaman baru yang saya dapatkan.

Tidak banyak buku yang masuk kriteria bagus menurut saya (mungkin karena sedikitnya buku yang saya baca :P), nah salah satunya adalah Goodnight Punpun. Goodnight Punpun adalah sebuah cergam sepanjang 13 volume karangan Inio Asano yang menceritakan perjalanan hidup seorang pria bernama Punpun Punyama (yang kemudian berubah jadi Punpun Onodera setelah perceraian kedua orangtuanya) dari kecil hingga usia awal 20an . Uniknya, Punpun dan keluarganya (Papa/Mama/Paman Yucihi) ini digambarkan sebagai sebuah(?) sketsa berbentuk burung, sementara karakter lainnya digambarkan sebagai manusia biasa. Sepanjang cerita, protagonis kita ini juga tidak mengucap sepatah kata-pun (kecuali dialog internal). Aneh ya.

Walaupun Punpun di sini berperan sebagai protagonis, namun tidak lantas cerita berpusat pada Punpun semata, semua karakter di cergam ini mendapat porsi penceritaan yang cukup. Melalui berbagai karakter yang ada di cergam ini, Asano seolah-olah memberi gambaran umum tentang pelbagai kegetiran hidup yang dihadapi oleh kebanyakan manusia. Teenage angst, krisis perempat/paruh baya, hubungan antar manusia yang merepotkan, perasaan teralienasi, krisis spirtual, cinta, seksualitas, ekonomi, hingga kematian, semua digambarkan dengan apik tanpa didramatisir secara berlebihan.

Penuturan yang sinis, nihilis, dan misantropis seakan-akan memberi kesan bahwa cergam ini merupakan cergam yang gelap dan depresif, namun saya justru merasa cergam ini heart warming. Membaca cergam ini saya semacam dibawa untuk menyelami apa yang ada di dalam diri setiap manusia, bahwa semua manusia sedang bergulat dengan masalahnya masing-masing. Intinya we’re all doomed..we’re fucked and there’s nothing we can do about it. Nothing in life is right but it’s alright. So just keep on living, accept what life has to offer and take it easy… maybe something good will happen 😛

punpun

Read Full Post »

Jika menyimak sepak terjang The Frankenstone sejak rilisan awal mereka sepertinya tidak sulit menebak pola dasar musik yang mereka mainkan. Basically mereka memainkan punk rock, lebih khususnya lagi punk rock catchy a la Ramones (atau yang lebih modern band-band keluaran Lookout Records era 90an seperti The Queers, Screeching Weasel, Green Day era perjuangan). Namun yang istimewa dari mereka adalah mereka mampu bermain-main lebih lanjut dengan berbagai unsur-unsur dari genre musik lain tanpa harus mengalami krisis identitas. Hal ini menunjukkan luasnya referensi mereka di bidang musik.

Mereka mendefinisikan musik yang mereka mainkan sebagai Autism Rock, entah apa yang mereka maksud dengan kalimat yang oleh beberapa orang cenderung ofensif itu, namun dalam pandangan awam saya kata Autis itu dapat diartikan bahwa mereka cenderung asyik bermain-main dengan dunia mereka sendiri, masa bodoh dan tak ambil peduli dengan segala macam labelisasi musik yang digagas oleh para “ahli dan pengamat musik”, dan hasilnya mereka mampu menghasilkan karya yang cukup brilian, variatif, tidak monoton, namun tetap memiliki benang merah yang jelas, aransemen yang “Frankenstone banget”.

Dalam album kedua ini, tidak banyak kejutan yang saya temui. Namun terlihat mereka menunjukkan sedikit kematangan dengan riff gitar dan bassline yang lebih nakal, perpaduan vokal yang lebih harmonis, lebih banyak part singalongable, dan lirik yang cenderung lebih panjang dengan makna yang lebih gamblang dari lagu-lagu di album pertama mereka.

Okay, cukup deh nyacatnyaalbum ini selain bisa didapatkan versi fisiknya melalui personelnya langsung juga bisa diunduh secara gratis di Yes No Wave Music

Sekian 😀

Read Full Post »

Bolehlah kalian mengagung-agungkan Winning Eleven dan Call of Duty terbaru. Boleh pula kalian mendewakan kualitas grafis game-game masa kini. Tapi buat saya itu semua hanyalah angin lalu.  Karena menurut saya pribadi genre yang benar-benar menyita perhatian saya sepenuhnya sejak 15 tahun yang lalu sampai sekarang adalah Adventure Games.  Bukan.. bukan sekedar game petualangan bak buk bak buk dar der dor.. tapi yang aku maksud adalah adventure sebagai sebuah genre permainan komputer 🙂

Apa itu Adventure Games?

Adventure Games, jika dilihat secara etimologis dapat diartikan permainan petualangan, tetapi term Adventure Games sendiri sering digunakan untuk menyebut sebuah genre dalam video game dimana sang pemain menggunakan kejelian dan kecermatannya dalam melakukan eksplorasi lingkungan, memecahkan puzzle yang ada,dan berinteraksi dengan berbagai karakter yang ada. Adventure games lebih berfokus kepada bagaimana pemain mampu menyusun apa yang ia dapatkan dalam eksplorasi dan interaksi tersebut menjadi sebuah jalinan cerita yang menarik. Disinilah kekuatan dari Adventure Games dibandingkan game-game lainnya, memainkan genre ini pemain akan merasa seperti sedang membaca novel atau menonton film.

Tema yang sering diangkat dalam Adventure Games meliputi fantasi, fiksi ilmiah, misteri, horror, dan komedi. Beberapa Adventure Games yang terkenal antara lain Zork, King’s Quest, Monkey Island, dan Myst. Kebanyakan dari Adventure Games dirilis sebagai PC Games, dan kebanyakan dikemas dalam bentuk single player.

Secara umum genre ini dibagi menjadi 5 jenis, yaitu text based/interactive fiction yang hanya menggunakan perintah tekstual dalam berinteraksi dengan lingkungan game, graphic adventure , rpg-like adventure yang mengimplementasikan unsur-unsur rpg seperti adanya statistik dan character development (misal : Quest for Glory), puzzle adventure yang lebih menitik beratkan pada pemecahan puzzle, dan japanese style adventure yang lebih mirip dengan novel interaktif (contoh : game-game love simulation Jepang). Diluar kelima sub-genre tersebut sebenarnya masih banyak game-game adventure yang berhasil mengembangkan gayanya sendiri, seperti Loom yang mengandalkan notasi musik, Last Express yang menggunakan sistem waktu real time, dan Fahrenheit.

Genre ini sempat merasakan masa kejayaannya pada tahun 80-an sampai awal 90-an, setelah itu Adventure Games seakan-akan punah dari peradaban manusia, barulah pada awal 2000-an perlahan-lahan genre ini mulai bangkit kembali

 

Sejarah

Dimulai dari Collosal Cave Adventure, sebuah software yang dibuat oleh William Crowther yang kemudian dikembangkan oleh Don Woods pada awal 70-an. Software tersebut adalah sebuah permainan petualangan interaktif penjelajahan gua yang berbasiskan teks, suasana gua dalam permainan tersebut dideskripsikan secara detail oleh Crowther, kemudian suasana gua tersebut oleh Woods ditambahkan beberapa elemen-elemen fantasi yang lazim ditemui pada video games. Collosal Cave Adventure tersebutlah yang menginspirasi beberapa programmer untuk mengembangkan genre adventure, mulai dari programmer-programmer amatir di lingkungan kampus,  Scott Adams yang kemudian mendirikan Adventure International, Infocom yang berhasil merilis serial Zork yang populer pada akhir 70-an, sampai pasangan Ken dan Roberta Williams yang kemudian mendirikan salah satu developer yang melegenda karena game-game adventurenya,Sierra On-Line

Pada perkembangan awalnya, game-game adventure masih berbasiskan teks, dimana pemain berinteraksi dengan lingkungan game hanya dengan mengetik perintah-perintah yang biasanya berupa kata kerja yang diikuti objek (contoh : open door, pick up key, walk north), disini pemain harus menggunakan imajinasinya berdasarkan deksripsi lingkungan yang diberikan. Banyak upaya-upaya yang dilakukan untuk menghadirkan grafis pada game-game adventure, pada perkembangan selanjutnya grafis yang ada hanya berupa vector. Salah satu game adventure pertama yang sudah menggunakan grafis adalah Mystery House (Ken dan Roberta Williams – 1980), sebuah game yang terinspirasi novel Agatha Christie yang berjudul And Then There Were None.

Menyusul kesukesan Mystery House, Ken dan Roberta mendirikan On-Line System yang kemudian pada tahun 1982 berubah nama menjadi Sierra On-Line. Game selanjutnya dari Sierra On-Line adalah Softporn Adventure dan Adventure in Serenia, tetapi baru pada King Quest (1984) Sierra membuat gebrakan baru dimana untuk pertama kalinya game adventure menggunakan sudut pandang orang ketiga, jadi karakter yang kita mainkan terlihat di layar, tetapi untuk melakukan interaksi dengan lingkungan, pemain masih harus menggunakan perintah tekstual. Game-game Sierra selanjutnya seperti Space Quest, Black Cauldron, dan Leisure Suit Larry yang kesemuanya sukses di pasaran telah mengukuhkan Sierra menjadi developer yang mendominasi dunia game adventure pada era 80-an sampai awal 90-an. Beberapa game adventure ciptaan Sierra yang dikenal di pasaran adalah, Serial King Quest, Serial Space Quest, Serial Police Quest, Serial Quest for Glory, Serial Eco Quest, Serial Gabriel Knight, Serial Manhunt, Serial Laura Bow, Serial Leisure Suit Larry, Adventure of Willy Beamish, Conquest of Longbow, Freddy Pharkas, dan banyak lagi.

Selanjutnya pada tahun 1987, Ron Gilbert, seorang programmer yang bekerja pada Lucasfilm Games (yang kemudian berubah nama menjadi LucasArts, dan ya.. perusahaan ini milik George Lucas) berhasil menciptakan sebuah sistem penulisan script yang bernama SCUMM yang menggunakan interface point-click, mirip dengan apa yang sudah dilakukan ICOM Interactive pada tahun 1985, dimana kita hanya perlu menggerakan krusor ke obyek tertentu kemudian kita tinggal meng-klik krusor tersebut untuk memberikan perintah tertentu, sistem tersebut kemudian diimplementasikan dalam game Maniac Mansion yang meledak di pasaran. Selain sistem SCUMM, LucasArts memberikan inovasi-inovasi baru dalam dunia game adventure, seperti tidak adanya “keadaan buntu”, jadi pemain tidak perlu takut mengalami situasi “game over” jika ia melakukan suatu kesalahan. Inovasi ini banyak diikuti oleh kompetitor-kompetitor LucasArts, termasuk Sierra.

Meskipun sudah menggunakan perintah berbasiskan point-click, tetapi perintah tekstual masih dibutuhkan dalam memainkan game adventure pada saat itu, grafis yang ada juga masih terbatas pada 16 warna. Barulah ketika Secret of Monkey Island dirilis LucasArts pada 1990, grafis telah meningkat menjadi 256 warna, selain itu sistem point-click juga hadir dalam kemasan yang modern, perintah tekstual sudah tidak digunakan lagi. Dengan itu LucasArts tak tertahankan lagi merajai dunia game adventure bersama kompetitornya, Sierra On-Line. Game-game adventure yang dirilis LucasArts antara lain Serial Indiana Jones, Serial Monkey Island, Sam and Max, Zak McKraken, Day of The Tentacle, Loom, Full Throtle, The Dig (yang merupakan kolaborasi LucasArts dan Steven Spielberg), dan Grim Fandango.

Pada tahun 1991 ketika dominasi Sierra dan LucaArts dalam dunia adventure game seakan-akan tidak tergoyahkan, sekelompok programmer muda dari Washington yang tergabung dalam Cyan,Inc. berhasil mengembangkan Myst, sebuah inovasi baru pada perkembangan adventure game, alih-alih menggunakan gaya grafis kartun, Myst menggunakan grafis foto-realistik, inovasi tersebut dibantu dengan hadirnya teknologi CD-ROM, Myst juga lebih menekankan pada puzzle solving dibandingkan interaksi dengan lingkungan dan karakter. Myst sendiri yang dirilis pada tahun 1993 terjual sebanyak lebih dari 9 juta kopi (rekor ini baru bisa dipatahkan oleh The Sims pada tahun 2000). Kesuksesan Myst mendorong lahirnya sekuel, sampai sekarang Myst telah mencapai seri ke-5, plus sebuah game spin-off yang berjudul Uru :Ages Beyond Myst, game parodi yang berjudul Pyst, dan tiga buah novel (Myst: The Book of Atrus, Myst: The Book of Ti’ana dan Myst: The Book of D’ni). Meskipun demikian masih banyak yang meragukan Myst sebagai game adventure murni, sebab Myst lebih berfokus pada puzzle dibandingkan interaksi lingkungan dan karakter.

 

Kematian dan Kebangkitan Kembali Adventure Games

Pada awal pertengahan 90-an, genre adventure mencapai puncak kejayaannya, dunia game dibanjiri oleh game-game adventure bermutu seperti Gabriel Knight, Sam and Max, Myst, Legend of Kyrandia, Toonstruck, Alone in The Dark (yang merupakan embrio game survival horror seperti Resident Evil dan Silent Hill), Discworld, dan banyak lagi. Tetapi hal tersebut tak berlangsung selamanya, perkembangan grafis 3 dimensi, perkembangan game action yang memasukkan unsur cerita yang kuat seperti Doom dan Half-Life, kemunculan MMORPG, dan juga kelahiran Playstation telah menyita banyak perhatian gamer untuk beralih dari adventure games. Adventure games dengan sistem permainannya yang tradisional, beralur lambat, dan membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi dianggap kuno.

Perlahan-lahan makin sulit ditemui game-game adventure baru dirilis pasaran, developer game mulai beralih dari adventure games, bahkan Sierra On-Line pada tahun 1998 menjual dirinya ke Cendant, yang kemudian dibeli lagi oleh Havas International, anak perusahaan Vivendi Universal senilai 1 Milyar Dollar.

Meskipun demikian, masih banyak fans Adventure Games yang tetap setia menjadi “Cult Follower”, beberapa dari mereka ada yang berusaha menciptakan dan mengembangkan game mereka sendiri, dan kemudian mendistribusikannya secara cuma-cuma melalui internet, banyak diantara game-game amatir tersebut yang berupa sekuel dan perbaikan mutu dari game terdahulu yang pernah sukses. Software yang cukup populer di kalangan programmer game adventure adalah Adventure Game Studio dan Visionaire.

Diluar developer “indie” seperti diatas, masih ada segelintir developer profesional yang terus mengembangkan game adventure, tetapi tidak ada judul yang mampu membuah pasar menengok pada genre ini, barulah pada tahun 2002 sebuah game adventure, Syberia yang dirilis oleh Microids mampu membuat pasar game adventure kembali bergairah, sekuel pun dibuat, Syberia II dirilis pada tahun 2004. Serial populer, Myst, juga kembali menggebrak dengan sekuelnya yang ke-4, Myst V : The End of Ages, yang dirilis pada bulan September 2005, tak ketinggalan sebuah serial baru dalam dunia game adventure, Nancy Drew, yang dibuat berdasarkan novel detektif berjudul sama, sampai saat ini serial Nancy Drew telah mencapai 20 seri. Game-game lain yang juga ditengok pasar antara lain Post Mortem dan game-game rilisan The Adventure Company lainnya, tetapi tidak ada yang lebih menghebohkan dibandingkan Fahrenheit/Indigo Prophecy, game yang dirilis Quantic Dreams pada tahun 2005, Fahrenheit menciptakan banyak inovasi baru dalam dunia game adventure, interface-nya yang unik dan original dianggap sebagai revolusi baru yang diramalkan akan menjadi standar game adventure di masa depan. Selanjutnya makin banyak lagi game adventure muncul di pasaran, seperti Still Life (sekuel dari Post Mortem), Dreamfall, dan Broken Sword : Angel of Darkness, sekuel terbaru serial Broken Sword. Inilah kebangkitan kembali genre Adventure Games.

Read Full Post »

Older Posts »