Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘indie’

Yogyakarta Zine Attack

pamplet kinoki

Barusan ini tadi saya baru aja pulang dari acara Yogyakarta Zine Attack. Acara ini sih niatnya pengen ngadain pameran zine, pemutaran film tentang zine, sama gigs musik. Hmm tapi sayangnya pemutaran film 100 dollars and A T-Shirt batal dikarenakan masalah teknis (kalo ga salah gara-gara proyektornya rusak plus CD yang scratch).

Sebelum bicara lebih jauh tentang acara ini, mungkin perlu saya sedikit mengungkit tentang apa sih zine itu? Zine itu kependekan dari fanzine, yaitu salah satu bentuk media cetak (meskipun sekarang ada juga yang rilis digital dalam bentuk blog atau pdf) alternatif, dimana zine itu bersifat self-published, non-komersil, dan sirkulasinya terbatas. Nah oleh karena zine itu bersifat sedemikian, maka zine bisa dikatakan sebagai suatu media yang pengerjaannya berasaskan D.I.Y (do it yourself), artinya zine itu diterbitkan secara swakelola, dibuat tanpa memikirkan untung-rugi secara material, dan dibuat berdasarkan keinginan si pembuat zine itu tanpa ada tekanan dari pihak luar, jadi zine itu berisikan suka-sukanya si pembuat zine. Isi Zine sendiri bermacam-macam, mulai dari musik, isu politik, isu gender, personal, gosip, atau malah bahkan curhatan si pembuatnya. Kalau dari hemat saya sih kemunculan zine itu dipicu dari ketidakpuasan akan media mainstream yang kadang isinya terlalu menuruti selera pasar, dan juga kadang sering menimbulkan bias akan suatu isu, nah zine ini digunakan sebagai counter/alternatif dari media mainstream yang emang kadang-kadang ngebosenin itu.

Oke kembali bicara tentang acaranya. Untuk pameran, jujur aja saya agak kecewa sama pamerannya, soalnya tuh isinya cuman zine-zine yang digantung-gantung gitu aja kayak jemuran, sebenernya hadirin (cieeh.. hadirin..) mungkin diharapkan untuk membaca atau seengaknya mengintip zine-zine tersebut, tapi yah… secara acaranya diadain pada suatu senja hari nan menyayat hati plus penerangan yang kurang, jadi kayaknya susah untuk baca-baca di situ. Sebenernya harapan saya di acara itu panitia juga mengadakan semacam workshop atau diskusi tentang zine sebagai salah satu media alternatif, tapi yah.. mungkin dikarenakan persiapan yang kurang atau bagaimana gitu, jadi yang ada pameran zine ini jadi terkesan cuman tempelan aja.

Enough about exihibition! Nah kalo untuk gigs musik-nya sendiri, aww it’s fucking awesome! Nggak ada panggung, nggak ada pembatas, yang ada cuman ruangan sebesar garasi, setumpuk ampli, dan musik-musik ngebut! Ruangan yang sempit bener-bener ngebuat interaksi antara performer dan audiens makin mantep! Sumpah asyik banget nih kalo ada acara musik kayak gini lagi (asal penonton jangan banyak-banyak, ntar bisa-bisa kejadian Beside terulang).  Singkat kata, acara malem itu ngingetin saya sama beberapa footage yang ada di film American Hardcore, sebuah film dokumenter tentang scene HC/Punk Amerika di taun 80-an.

Segini aja lah, soalnya saya udah ngantuk. Oiya, selamat buat panitia ya! acara kalian lumayan keren! Lain kali mungkin perlu dipertimbangkan untuk bikin event yang lebih gede, mmm semacam D.I.Y (Do It Yourself) fest gitu lah, seengaknya untuk memperkenalkan etos kerja D.I.Y/indie ke segmen yang lebih luas. Nggak cuman sekedar pameran, tapi mungkin ada workshop atau diskusinya juga. Oiya, kalo menurut saya sih etos kerja D.I.Y/indie itu nggak cuman ada di zine publishing aja, tapi juga bisa berupa karya-karya lain, seperti misalnya film, musik, event organizing, atau bahkan operating system/software komputer (semacam software-software freeware yang open source, that’s D.I.Y!). Seenggaknya dengan adanya acara itu nantinya bisa ngebuka mata sebagian besar kalangan yang udah punya pendapat kalo term indie itu sebatas skinny jeans, baju distro, sok nyeni, sok freak, dan The Upstairs.

Adya – 2:40 A.M with 22% soberity. Muah Muah! Love you all 😉

Iklan

Read Full Post »

Let’s redefining what gaul is.

Cool :

-Listening to somewhat weird-never heard ’em indie/metal bands,

-Jazz (you don’t have to know the roots, listening to Tompi and Afgan are enough),

-List of your favourite movies would be = Eternal Sunshine of The Spotless Mind, Trainspotting, I Am Sam, Lost in Translation, Virgin Suicides, 24 Hours Party People, Wicker Park, all movies by Stanley Kubrick, some French movies, classic movies.

-Pretending to be nerd (thick rimmed oversized glasses is a MUST),

-Artsy (oh my God, it’s Warhol!)

-Wearing oh so retro-vintage-postmodern-harajuku-you name it clothes (don’t forget to buy those expensive *alternative* fashions at your nearest distro ™, it’s so D.I.Y),

-Don’t forget the skinny jeans (baggy trousers are so 2001),

-Oh and the keffiyeh (it means you’re a pro-palestinian, errr am I right?),

-Graphic design (basic photoshop/coreldraw skill is a MUST),

-Myspace or Facebook (Friendster is so last year),

-Lomography or digital SLR photography,

-Aksara – not Gramedia,

-Laptop (MacBook recommended) + Coffee shop/Mall with a wi-fi connection (warnet and Telkomnet instan are so last year),

-Low rider (motor ceper with knalpot blombongan are so barbaric).

Uncool :

-Emo (all emos are turned into metalheads),

-Dewa 19 and other top 40 bands (including Kangen Band and Radja),

-Sinetron,
-Cheesy Indonesian horror movies,

-Baggy trousers,

-Bleached hair,

-Spikey/fauxhawk hairdo.

….the bottom line to be uncool is to follow all the values that offered by mainstream medias such as tabloid gaul, keren beken, and aneka yess.

Read Full Post »