Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘punk’

Selama bertahun-tahun banyaknya band hardcore di Yogyakarta tidak diimbangi dengan rilisan yang ada. Band-band lebih memilih merilis merchandise dan memperbanyak live show (ataupun jika ada band yang merekam satu-dua lagu, mereka memilih mendistribusikannya dengan cara yang tidak serius. Dari flashdisk ke flashdisk atau menunggahnya ke file hosting gratisan). Okelah, memang ada Something Wrong, Serigala Malam Throughout, Wound, Wicked Suffer dan Knockdown, tapi rilisan yang ada tetap saja tidak sebanding dengan kemeriahan scene hardcore Yogyakarta dalam rentang waktu enam-tujuh tahun ini.

2014 Merupakan tahun di mana banyak band hardcore lokal yang berani merekam dan mendistribusikan karya mereka secara serius dalam bentuk album. Tercatat ada See It Through, Stronger Than Before, Home Truth, dan YK\\DK yang merilis album (Maafkan jika ada rilisan lain yang terlewat, ketidakaktifan di scene hardcore membuat saya hanya bisa menyimak empat rilisan tersebut). Menariknya, keempat band tersebut masing-masing merepresentasikan varian hardcore yang berbeda.

Dalam tujuh tahun belakangan ini scene hardcore di Yogyakarta didominasi oleh band-band dengan sound berat dan “galak”, cukup menyegarkan ketika melihat ada satu band yang berusaha menghadirkan keriaan oldschool hardcore, ya See It Through. Belum genap satu tahun berdiri, band ini sudah merilis sebuah full length dengan judul “Youth Spirit Never End”. Sembilan track (plus satu overture -bukan bukan overture yang bunyinya “Everybody! A live act never seen before….” :p-) ini sukses membuat saya mengenang awal-awal saya mengenal music hardcore (dan tentu saja scene YKHC dengan band-band semacam Strength to Strength, Think Again, Same Direction), namun saya merasa mereka belum mengeluarkan potensi mereka seutuhnya. Lagu-lagu yang mereka mainkan masih terasa datar, tidak ada ledakan-ledakan energi yang berarti. Pun, secara subyektif tema-tema yang mereka angkat juga terasa klise bagi saya yang sudah terlanjur skeptis dengan isu semacam brotherhood, unity, being positive. Toh hal tersebut tidak berarti saya tidak bisa menikmati album ini. Secara keseluruhan album ini tetap menyenangkan untuk didengarkan sesekali sambil mengenang jaman2 ketika saya masih bisa menikmati gig hardcore. Oh iya, dan niat mereka untuk “Make Hardcore Fun Again” patut mendapat apresiasi.

Tidak seperti See It Through yang belum lama berdiri langsung merilis full length. Stronger Than Before yang berdiri pada tahun 2004 (CMIIW) ini bisa dibilang irit rilisan, hingga tiba-tiba mereka merilis full length berjudul “One Long Journey” di tahun 2014. Menyimak keseluruhan album ini saya semacam mendengarkan curhatan “aging hardcore kid” mengenai kegetiran akan perubahan-perubahan yang terjadi dalam scene hardcore sekarang ini. Eksis selama lebih dari satu dekade membuat STB menjadi saksi dari transformasi scene hardcore di Yogyakarta. Penuturan yang tidak menghakimi atau menggurui mencerminkan kedewasaan mereka. Secara musikal, album ini jauh dari kesan membosankan. Suara gitar yang bersahut-sahutan membuat lagu-lagu mereka terasa padat. Disayangkan sekali dengan materi sesolid ini, dalam penampilan livenya mereka malah lebih sering membawakan lagu dari band lain.

Sementara itu kehadiran Home Truth bisa dibilang mengisi kekosongan yang ditinggal This Heart. Kurangnya respon Scene Hardcore Yogyakarta terhadap varian Hardcore “nggerus” a la Miles Away, Verse, Go It Alone ini tak lantas membuat mereka tidak produktif. Setelah merilis split cassette dengan Think Again, pada pertengahan 2014 kemarin mereka merilis full length album dengan judul After Grey. Isu-isu personal tentu menjadi “kewajiban” bagi band-band semacam ini. Lirik puitis dan kontemplatif yang ditulis dengan kesalahan gramatikal yang minim menjadi nilai plus dari band ini. Kekhawatiran saya akan absennya emosi dari album ini karena vokal yang terasa flat di awal-awal lagu pun ternyata pupus. Divisi vokal latar Home Truth berhasil menyelamatkan album ini dari kemonotonan.

Tahun 2014 ditutup dengan full length perdana dari YK\\DK, We’re All Pretentious Asshole yang dirilis tepat di penghujung tahun 2014. Menyimak rilisan-rilisan mereka sebelumnya (dalam format raw demo) membuat saya berekspektasi tinggi terhadap full length mereka ini. Basically musik yang mereka mainkan berada di jalur hardcore/punk a la Black Flag, Dead Kennedys atau yang lebih mutakhir OFF! dan Raw Nerve, namun tidak berhenti di situ saja, mereka juga cukup “usil” untuk bermain-main dengan berbagai unsur bebunyian seperti Noise, Post-punk, bahkan surf tanpa harus keluar terlalu jauh dari koridor hardcore/punk. Sayangnya hal tersebut tidak saya temukan secara jelas dalam full length ini kecuali feedback gitar di beberapa lagu yang menghadirkan kesan noisy. Terlepas dari absennya keusilan mereka, album ini tetap menghadirkan lagu-lagu hardcore/punk yang kasar dengan lirik-lirik sinis namun komikal.

matuirena

Iklan

Read Full Post »

Yogyakarta Zine Attack

pamplet kinoki

Barusan ini tadi saya baru aja pulang dari acara Yogyakarta Zine Attack. Acara ini sih niatnya pengen ngadain pameran zine, pemutaran film tentang zine, sama gigs musik. Hmm tapi sayangnya pemutaran film 100 dollars and A T-Shirt batal dikarenakan masalah teknis (kalo ga salah gara-gara proyektornya rusak plus CD yang scratch).

Sebelum bicara lebih jauh tentang acara ini, mungkin perlu saya sedikit mengungkit tentang apa sih zine itu? Zine itu kependekan dari fanzine, yaitu salah satu bentuk media cetak (meskipun sekarang ada juga yang rilis digital dalam bentuk blog atau pdf) alternatif, dimana zine itu bersifat self-published, non-komersil, dan sirkulasinya terbatas. Nah oleh karena zine itu bersifat sedemikian, maka zine bisa dikatakan sebagai suatu media yang pengerjaannya berasaskan D.I.Y (do it yourself), artinya zine itu diterbitkan secara swakelola, dibuat tanpa memikirkan untung-rugi secara material, dan dibuat berdasarkan keinginan si pembuat zine itu tanpa ada tekanan dari pihak luar, jadi zine itu berisikan suka-sukanya si pembuat zine. Isi Zine sendiri bermacam-macam, mulai dari musik, isu politik, isu gender, personal, gosip, atau malah bahkan curhatan si pembuatnya. Kalau dari hemat saya sih kemunculan zine itu dipicu dari ketidakpuasan akan media mainstream yang kadang isinya terlalu menuruti selera pasar, dan juga kadang sering menimbulkan bias akan suatu isu, nah zine ini digunakan sebagai counter/alternatif dari media mainstream yang emang kadang-kadang ngebosenin itu.

Oke kembali bicara tentang acaranya. Untuk pameran, jujur aja saya agak kecewa sama pamerannya, soalnya tuh isinya cuman zine-zine yang digantung-gantung gitu aja kayak jemuran, sebenernya hadirin (cieeh.. hadirin..) mungkin diharapkan untuk membaca atau seengaknya mengintip zine-zine tersebut, tapi yah… secara acaranya diadain pada suatu senja hari nan menyayat hati plus penerangan yang kurang, jadi kayaknya susah untuk baca-baca di situ. Sebenernya harapan saya di acara itu panitia juga mengadakan semacam workshop atau diskusi tentang zine sebagai salah satu media alternatif, tapi yah.. mungkin dikarenakan persiapan yang kurang atau bagaimana gitu, jadi yang ada pameran zine ini jadi terkesan cuman tempelan aja.

Enough about exihibition! Nah kalo untuk gigs musik-nya sendiri, aww it’s fucking awesome! Nggak ada panggung, nggak ada pembatas, yang ada cuman ruangan sebesar garasi, setumpuk ampli, dan musik-musik ngebut! Ruangan yang sempit bener-bener ngebuat interaksi antara performer dan audiens makin mantep! Sumpah asyik banget nih kalo ada acara musik kayak gini lagi (asal penonton jangan banyak-banyak, ntar bisa-bisa kejadian Beside terulang).  Singkat kata, acara malem itu ngingetin saya sama beberapa footage yang ada di film American Hardcore, sebuah film dokumenter tentang scene HC/Punk Amerika di taun 80-an.

Segini aja lah, soalnya saya udah ngantuk. Oiya, selamat buat panitia ya! acara kalian lumayan keren! Lain kali mungkin perlu dipertimbangkan untuk bikin event yang lebih gede, mmm semacam D.I.Y (Do It Yourself) fest gitu lah, seengaknya untuk memperkenalkan etos kerja D.I.Y/indie ke segmen yang lebih luas. Nggak cuman sekedar pameran, tapi mungkin ada workshop atau diskusinya juga. Oiya, kalo menurut saya sih etos kerja D.I.Y/indie itu nggak cuman ada di zine publishing aja, tapi juga bisa berupa karya-karya lain, seperti misalnya film, musik, event organizing, atau bahkan operating system/software komputer (semacam software-software freeware yang open source, that’s D.I.Y!). Seenggaknya dengan adanya acara itu nantinya bisa ngebuka mata sebagian besar kalangan yang udah punya pendapat kalo term indie itu sebatas skinny jeans, baju distro, sok nyeni, sok freak, dan The Upstairs.

Adya – 2:40 A.M with 22% soberity. Muah Muah! Love you all 😉

Read Full Post »

D

Read Full Post »